Penerapan Nilai Eigen Gorman untuk Industri Mesin ini jahit Needle Getaran

Tekstil Insinyur, Fakultas Teknik, Universitas Alexandria, Alexandria, Mesir Menerima 19 Maret 2015; direvisi 17 Februari 2016 diterima 20 Februari 2016

Abstrak getaran bebas dari jarum jahit dibagi menjadi getaran bebas lateral dan getaran bebas aksial. Dalam karya ini sebuah studi teoritis yang menyangkut getaran lateral yang gratis akan diterapkan pada jarum jahit dengan menggunakan nilai-nilai Eigen Gorman (Daniel, 1975) teknik. Studi ini akan dibagi menjadi sebagai berikut: jarum dengan penampang konstan (dengan kondisi batas klasik klasik dan non) dan jarum dengan variabel penampang (kerucut dan melangkah). Untuk semua bentuk yang berbeda dari jarum (klasifikasi Gorman) frekuensi alami linear di jahitan per menit (SPM) akan dihitung dengan menggunakan nilai-nilai Eigen Gorman via tabel khusus dan grafik. Ditemukan bahwa linear frekuensi alami fundamental berikut: dijepit jarum jahit gratis (CF) adalah 21.548 SMP, dijepit jarum jahit sederhana (CS) adalah 94.522 SMP sedangkan untuk bebas bebas jarum (FF) untuk n = 2 adalah 137.130 SMP . Untuk setiap jenis nilai Eigen b dipilih karena kondisi batas jarum jahit. Rasio antara terendah (CF) frekuensi alami linear dan tertinggi (FF) satu adalah 16%. Dalam karya ini bahan jarum jahit yang dipilih adalah baja dengan E = 206 GPa dan berat tertentu 785.000 N / m3.2016 Faculty of Engineering, Alexandria University. Production and hosting by Elsevier B.V. Thisisan open access article under the CC BY-NC-ND license

  1. Perkenalan

 

Panovko [7] dalam karyanya telah menyatakan bahwa sulit untuk menunjukkan domain Teknik di mana studi getaran elastis tidak akan menjadi masalah yang mendesak. Banyak perhatian diberikan oleh peneliti untuk getaran struktur tujuan yang sangat berbeda: rotor turbin, pesawat, pisau turbin, dll Saat ini pakaian dan industri pakaian dianggap daerah Teknik penting yang membutuhkan menekankan pada mekanik – mesin – side seperti mesin jahit industri, yang memiliki unsur penting yaitu jarum jahit di mana, itu adalah bar logam dari baja dengan konfigurasi dan struktur khusus. Ini adalah bagian yang sangat dipercepat dalam mesin jahit di mana ia memiliki kecepatan yang diijinkan max = 15 k SPM. Jarum jahit telah mengalami penelitian terlalu sedikit yang menyangkut getaran yang gratis, dipaksa, mode, dll, untuk menghitung kecepatan kerja jarum jahit. Hal ini diperlukan untuk mempelajari frekuensi getaran bebasnya; dalam kasus-kasus tertentu getaran menghambat layanan normal atau bahkan langsung membahayakan kekuatan secara bertahap mempromosikan kegagalan kelelahan. Dalam kasus seperti teori dapat menunjukkan cara untuk mengurangi vibra- merugikan

tions [7]. Diharapkan kualitas keamanan kain dijahit bisa memburuk akibat getaran jarum jahit [9]. Getaran bebas berarti getaran mekanik yang dilakukan oleh sistem mekanis (seperti menjahit

Universitas.http://dx.doi.org/10.1016/j.aej.2016.02.028 1110-0168 2016 Fakultas Teknik, Universitas Alexandria. Produksi dan hosting yang oleh Elsevier B.V.Ini adalah sebuah artikel akses terbuka di bawah CC BY-NC-ND lisensi (http://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0/).

jarum) tidak memiliki pasokan energi dari luar tetapi mereka terjadi ketika sistem terganggu dari posisi kesetimbangan dan kemudian tiba-tiba dirilis [7]. Gorman [3] telah menulis bahwa ada dua metode yang umum dianalisis untuk memiliki solusi untuk masalah getaran bebas dari bar (jarum) dan balok. Metode, yang paling sering digunakan adalah untuk memecahkan persamaan bar-beam-diferensial yang mengekspresikan keseimbangan antara gaya inersia dan gaya pemulih elastis, tunduk pada kondisi batas yang ditentukan. Metode kedua adalah metode energi yang pada dasarnya terdiri dari memanfaatkan fakta bahwa dalam getaran bebas jumlah dari energi needlepotential balok-menjahit dan energi kinetik adalah konstan. Metode Gorman sangat diterapkan dalam pekerjaan kita. Feodosev [2] telah menyatakan bahwa teori getaran adalah penting khusus untuk masalah diterapkan: ditemui dalam praktek Teknik, antara lain dalam desain mesin – mesin jahit industri dan struktur.Ada kasus ketika struktur teknik yang dirancang untuk aman yang besar untuk menahan beban statis gagal di bawah tindakan yang sangat kecil (relatif) kecil secara berkala, bertindak kekerasan. Dalam banyak kasus struktur kaku dan sangat kuat telah membuktikan cadang tersebut di hadapan pasukan yang bervariasi sedangkan struktur ringan yang sama dan tidak begitu kuat pada pandangan pertama – mesin jahit industri – mempertahankan kekuatan yang sama benar-benar aman.Varvak [8] telah mengklaim bahwa kasus khusus dari sistem elastis mekanik dengan gelar tunggal dan beberapa kebebasan dapat ditabulasikan untuk aplikasi praktis di mana meja memiliki 3 kolom: skema dari sistem mekanik, derajat kebebasan dan akhirnya kolom frekuensi alami . meja mencakup sekitar 52 skema sistem mekanik getaran.Belyaev [1] telah mempelajari beberapa topik penting dalam bidang getaran dari sistem mekanik sebagai efek dari resonansi getaran pada nilai stres dalam elemen mesin – jarum jahit – selama proses getaran. Selain perhitungan massa setara dengan sistem getaran telah dilakukan di mana untuk jarum misalnya menjahit – sebagai balok kantilever massa setara adalah FLV / 3g [v – berat jenis bahan jarum, L – panjang jarum jahit dan g – percepatan gravitasi dan F – luas penampang].

 

Gambar 1 Industri mesin jahit jarum.

Panamarev [6] telah dipelajari secara ekstensif getaran dari pegas koil sebagai memanjang (aksial) atau lateral (melintang) di bawah kondisi batas yang berbeda. Juga getaran aksial pisau turbin dievaluasi dengan cara semua studi dari Panamarev [6] bergeser ke aplikasi praktis Teknik dan bisa digunakan secara efisien di mesin jahit industri sebagai titik pandang kami [4].

  1. Pendekatan MatematikaKonfigurasi aktual dari jarum jahit [9] ditunjukkan pada Gambar. 1. Bagian pertama dari Pendekatan Matematika akan dikhususkan untuk jarum dengan penampang konstan dan dengan batas-batas klasik dan non-klasik.2.1. jarum jahit dengan penampang lingkaran konstan dan dengan kondisi batas klasikSkema perhitungan [diagram garis] ditunjukkan pada Gambar. 2a.Nilai rata-rata diameter jarum dihitung dengan menggunakan inersia tertimbang penampang Ii mana saya ¼1, 2, 3 dan 4

Gambar 2 Jahit dengan kondisi batas klasik dan dengan penampang konstan.

 

 

 

1525232

I ¼ I1 452 þ I2  452 2 þ I3  452 þ I4  452

1525

¼ 2:4850  1013  45 þ21:0417  1014  45

þ 7:81254 1016  452  þ 1:9175  1016  453 2

¼ 3:0982 mð1Þ

pu464 ¼ 3:0982  1014 u ¼ 0:89 mm

 

Karena pengalaman Teknik dan praktek, nilai diameter jarum rata = 0,89 mm adalah wajar.Pengalihan konfigurasi sebenarnya dari jarum jahit dari bar dengan penampang variabel ke sebuah bar dengan penampang konstan dengan menggunakan rata-rata tertimbang dari jarum daerah inersia penampang adalah metode didekati karena perbedaan kecil di diameter jarum sepanjang panjangnya. Teknik didekati lebih akurat adalah metode Rusia Scientist Jemochken [5].

 

2.1.1. Untuk jarum jahit dengan penampang konstan dan dengan kondisi batas klasik

Karena Gorman [3]

f ¼ 2pL2 2 sqffi A ð2Þ b EI

4 qAx2L4

b ¼ EI! ð3Þ

mana q – kepadatan materi jarum jahit (baja) ¼ 7850 kg = m3, A – jarum jahit luas penampang, x – melingkar frekuensi alami, L – jarum jahit panjang keseluruhan, E – modul Young untuk bahan jarum jahit (baja) ¼ 206 MPa, I – daerah momen inersia penampang jarum, b – nilai Eigen di masalah getaran jarum jahit melalui meja khusus, frekuensi alami linear. The jarum jahit bentuk modal sebagai fungsi dari n ¼ XL isrðnÞ, x jarak variabel sepanjang sumbu jarum untuk kondisi loncat yang berbeda adalah sebagai berikut:

(A) Persamaan bentuk modal untuk jepit bebas [CF] jarum

rðnÞ ¼ sinbn sinhbn cðcosbn coshbnÞ dan D0 6n6 1th ð4Þ

c ¼ cos sinbb þþ sinhcoshbb ð5Þ

Persamaan bentuk modal untuk dijepit-sederhana jarum

[CS] adalah

rðnÞ ¼ sinhbn sinbn þ cðcoshbn cosbnÞ dan D0 6n6 1th ð6Þ

c ¼ cos sinhbbcoshsinbb ð7Þ

Persamaan modal gratis-gratis jarum jahit (FF) adalah sebagai berikut:

rðnÞ ¼ sinbn sinhbn þ cðcosbn coshbnÞ dan D0 6n6 1th

ð8Þ

c ¼ sincosbbsincoshbb ð9Þ

Database dari jarum jahit adalah sebagai berikut:

Panjang = L ¼ 45 mm ¼ 0: 045 m 4

Diameter = u ¼ 0:89 mm ¼ 8: 9 10 m

Daerah inersia penampang I

Saya ¼ 3: 0783 1014 m4

E ¼ 206  109 pascalðpaÞ EI ¼ 6:3413  103 m2

q  A ¼ 7850  4p10000:8922 ¼ 4:811  103 kg=m:

The Eigen value for different boundary conditions and for different modes [3] are shown in Table 1.

The calculation of the natural frequencies for the previous stated needle in (SPM) is as follows:

  • Clamped simple      Sewing    needle      [CS]        boundary conditions,
    • ¼ 1

fcs ¼ 2p3ð:0927:0452 Þ2  s6ffi4::3413811 101033

¼ 1575:35 cps

¼ 94;522 cpm

  • Clamped free Sewing [CF] needle boundary conditions,
    • ¼ 1

fCf ¼ 2p1ð:0875:0412 Þ2  s206ffi 104:9811 3:6783103 1014

¼ 21;548 cpm

Free–free Sewing needle [CF] boundary conditions,

n ¼ 1 b ¼ 0

F ¼ 0 n ¼ 2

fFF ¼ 2pð40:73:0452 Þ2 sffi64::3413811 101033 :

¼ 137;130 cpm

Table 1 Eigen values for needle with classic boundary conditions. Source: Gorman [3].

Mode Free–free Clamped-free Clamped-simple
1 0 1.875 3.927
2 4.73 4.694 7.069
3 7.853 7.855 10.210
4 10.95 10.96 13.332

Table 2 Natural frequency of Sewing needle with different bound conditions and with constant cross section.

Mode             Free–free           Clamped-free            Clamped-simple

  • 0 21,548     94,522
  • 137,130 135,051   306,285
  • 2. Needle with constant cross sections and with non-classical boundary conditions
¼ sinhb  cosb  sinbcoshb

where

K dimensional linear spring constant

KL3

ð   Þ
  • b2ð1 þ cosbcoshbÞ K    10
  • 11
  • ¼ EI ð              Þ
  • K – spring constant for linear coil spring, L – needle overall length, E – Young’s modulus for the sewing needle material (Steel) and I – area moment of sewing needle cross section. Also the modal shape equation is as follows: rðnÞ ¼ sinhbn sinbn þ cðcosh bn  cosbnÞ ð0 6n6 1Þ ð12Þ
  • where
  • ¼ ðsinb þ sinhbÞ ð Þ c13 coshb þ cosb
  • ðfCEÞ ¼ fn ¼ fCF þ QðfCF fCFÞ        ð14Þ
  • where rðnÞ – Needle modal shape as a function of n ¼ Lx ðdimensionlessÞ, x – distance measured along the needle, fn – frequency of sewing needle vibration in nth mode, fCF – natural frequency of clamped free needle, and Q – measure of how far sewing needle frequency lies between limiting frequencies as shown by special Table 3, b – Eigen value is appearing in needle’s vibrations in problems, FCS – natural frequency of

dijepit jarum jahit sederhana, CF – dijepit gratis dan CS – dijepit sederhana, CE – jepit-elastis (non-klasik kondisi batas).

Dalam kasus kami, kami dapat menunjukkan batas atas DQ ¼ 1:-0 dalam mode asimtotik, untuk alasan ini menyusul hubungan antara Q dan K terbatas untuk nilai akhir menengah Q lebih besar dari 0,8.

¼ Ka 0: 8 ð15Þ

Q 1 0: 2 ¼

K mana Ka¼0: 8 adalah nilai K di Q ¼ 0: 8 dan setiap analis dari data tabulasi menunjukkan bahwa persamaan sebelumnya. (15) juga memberikan frekuensi dengan kesalahan tidak lebih besar dari 1 persen [3].

Perhitungan jarum jahit dengan penampang konstan dan dengan kondisi batas non-klasik – lihat Gambar. 2b adalah sebagai berikut: dari Tabel khusus 3 kita dapat menemukan sebagai berikut: Ku¼0: 8 ¼ 89:96 berasumsi kain resistensi elastis

koefisien k = 2000 N / m, maka

Gambar jarum 2b jahit dengan kondisi batas non-klasik dengan penampang konstan.

¼ 2000 D0: 045Þ33 ¼

K28: 74

6: 3413 10

) Q ¼ 1 0: 28.928 :: 9674 ¼ 0: 3740

Seperti yang ditunjukkan sebelumnya pada Bagian (I),

  • Untuk menjepit jarum jahit gratis, n = 1

FCF ¼ 94; 522 SPM

  • Untuk menjepit jarum jahit sederhana, n = 1

FCS ¼ 21: 548 SPMUntuk kasus kami – Gambar. 2b dengan n = 1fnðfCEÞ ¼ 94: 522 þ 0: 3740ð21: 548 94: 522Þ = 67,229 SPM. Lihat Tabel 3.2.3. jarum jahit dengan penampang variabel dan dengan kondisi batas klasikPada bagian ini, bagian silang variabel menjahit jarum, seperti yang terlihat pada Gambar. 3 dibagi menjadi sebagai berikut: (a) melangkah jarum (dua bagian), (b) hidung kerucut jarum dan (c) dipotong jarum berbentuk kerucut.

2.3.1. Melangkah jarum jahit dengan dua penampang

jarum jahit melangkah ditunjukkan pada Gambar. 4, di mana persamaan mode jarum adalah sebagai berikut

Table 3 Natural frequencies of needles with variable cross sections and with classical boundary conditions.

Stepped                Conical and circular

    Nose cone Truncated cone
1 180,400 118,832 100,675
2

 

  1. Pengalihan jarum jahit industri dari bar withvariable penampang ke sebuah bar dengan penampang konstan dengan cara rata-rata tertimbang dari daerah saat jarum sebenarnya penampang diterima di mana persentase kesalahan 1%.
  2. termurah mendasar frekuensi alami linear adalah 22 kstitches per menit [SPM] untuk menjepit-sederhana [CS] jarum jahit dengan kondisi batas klasik dan dengan penampang konstan, sedangkan nilai tertinggi adalah 180 k untuk melangkah jarum jahit dengan batas klasik kondisi.
  3. dijepit-elastis jahit Jarum dengan kondisi batas non-klasik menghasilkan frekuensi dasar alami linear 67 k SPM, dan ketahanan elastis kain diungkapkan oleh K = 2000 N / m sebagai asumsi (perlu kerja eksperimental yang luas) .
  4. Kecepatan kerja rata-rata needlepractically industri adalah 3 k SPM yang mewakili 14% dari frekuensi alami linear fundamental dari dijepit-sederhana jarum yang terlalu aman [keselamatan bisa diterima hingga 70%].
  5. Tampaknya perlawanan elastis kain dijahit pada thelower dan jarum relatif tinggi sehingga jarum dengan frekuensi 22 k nya SPM bisa dianggap clampedsimple (CS).
  6. Persamaan bentuk modal masing-masing jarum ketik anddesign sebagai fungsi dari (n) ditulis dan dapat disajikan secara grafik pada modus yang berbeda (n = 1, 2, 3, dll) dengan bantuan software Matlab, dan variabel n adalah fungsi dari (x) sama dengan XL di mana x adalah variabel dalam arah panjang jarum jahit.
  7. mendasar linear lateralis frekuensi alami bebas toohigh untuk jarum jahit karena beberapa parameter sebagai yang panjang massa per unit (di mana itu terlalu relatif kecil dan modulus elastisitas yang tinggi dari baja, dll).
  8. Pertama mendasar frekuensi alami linear untuk getaran bebas lateral jarum jahit terlalu cukup praktis. Visi masa depan adalah untuk melaksanakan pekerjaan eksperimental untuk mengukur mendasar linear alami frekuensi-melalui teknik praktis tertentu seperti berdampak jarum; di samping itu, koefisien elastis resistensi kain untuk jarum diperlukan untuk secara intensif diukur dengan inovasi dan teknik-teknik canggih. Terakhir aksial bentuk modus getaran dan frekuensi fundamental linear alami yang diperlukan untuk berlatih pola keseluruhan getaran jarum jahit.

Referensi

[1] N.M. Belyaev, Kekuatan Material, Copy Rusia, NaykoPress, Moskow, R.F.U. 1976.

[2] V. Feodosev, Kekuatan Material, Inggris Copy Mir diterbitkan, Moskow, R.F.U. 1968.

[3] Gorman I. Daniel, Gratis Getaran Analisis Beems L Shafter, John Wiley and Sons Tekan Ottawa University, Kanada, 1975.

[4] Ibrahim A. El Hawary, The Balancing Dinamis dari Paket Berat dari menghujani Terus Filament Kuliah, TED, Alex University, Mesir, 2015.

[5] Ibrahim A. El Hawary, The Getaran dari Heavy memutar Spindle digunakan untuk plying CF Benang, Akademi Tekstil, Moskow, Negara (MSAT), R.F.U. 1978.

[6] C.D. Panamarev et al, Dasar Metode Modern Mesin Desain Mesin, Desain Press, Moskow, R.F.U. 1952.

[7] Ya Panovko, Elemen Teori Terapan dari elastis Getaran, Inggris Copy Getaran Mir Penerbit, Moskow, R.F.U. 1971.

[8] Ed. Varvak et al, Buku Referensi Kekuatan Material, Naykova Press, Kiev, Ukraina, 1975.

[9] G. Stylios, O. Sotomi, R. Zhu, Y. Xu, R. Deacon, Prinsip-prinsip mekatronika untuk lingkungan menjahit cerdas, Mechatronic 5 (2/3) (1995) 309-319

 

 

 

ETIKA PROFESI PNS (Pegawai Negri Sipil)

KODE ETIKA PROFESI PNS

Kode Etik profesi Pegawai Negeri Sipil merupakan nilai-nilai yang diyakini akan kebenarannya serta kebaikan yang ditimbulkannya  apabila dapat diwujudkaan dalam sikap dan perilaku seorang Pegawai Negeri Sipil baik  dalam kedinasan maupun dalam kesehariannya ditengah-tengah masyarakat.  Kode Etik Pegawai Negeri Sipil mencakup seluruh aspek kehidupan baik kedinasan maupun dalam kehidupan kesehariannya yaitu Kode Etika Bernegara, Kode Etika Berorganisasi, Kode Etika Bermasyarakat, Kode Etika Sesama Pegawai Negeri Sipil dan Kode Etika terhadap diri sendiri.

Butir-butir  kode etik tersebut akan bermakna jika dapat teraplikasikan dalam sikap dan perilaku dan menjadi internalisasi dalam diri  seorang Pegawai Negeri sipil. Butir  Kode Etik Pegawai Negeri Sipil tersebut sebagaimana yang tercantum dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 sebagai berikut.

  1. Etika Bernegara
  2. Melaksanakan sepenuhnya Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945

Pancasila sebagai Dasar Negara dan Undang-Undang Dasar 1945 merupakan landasan konstitusional yang wajib dijadikan nilai dalam perilaku keseharian bagi seorang Pegawai Negeri Sipil. Pancasila sendiri merupakan nilai yang digali dari budaya bangsa dan merupakan pembeda dengan Negara lain. Nilai Ketuhanan mengandung makna bangsa Indonesia adalah bangsa religious dan Undang-Undang Dasar 1945 mengatur bagaimana warga Negara beragama dan menjalankan setiap ajaran agamanya. Nilai kemanusia yang adil dan beradab adalah bangsa Indonesia menjunjung tinggi hak asasi manusia karena manusia adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Esa dan memiliki derajat  dan martabat yang sama olehnya itu manusia harus saling dihormati. Nilai persatuan Indonesiaa bahwa Pancasila adalah sebagai pemersatu bangsa, maka Pegawai Negeri Sipil harus memiliki peran sebagai pemersatu dan perekat bangsa dalam kanca Negara Kesauan Republik Indonesia. Nila Musyawarah adalah bangsa Indonesia dalam setiap pengamabilan suatu keputusan selalu dilakukan dengan terlebih dahulu musyawarah untuk mufakat, bila jalan musyawaarah tidak dapat diambil karena perbedaan pandangan dan pemikiran barulah diambil jalan voting dengan memperhatikan suara terbanyak. Nilai keadilan social adalah nilai bahwa adil merupakan nilai yang selalu dikedepankan dengan tidak membeda-bedakan antar golongan, suku maupun agama terutama ketika seorang PNS dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

  1. Mengangkat harkat dan martabat bangsa dan Negara

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki harkat dan martabat dalam percaturaan dan pergaulan dengan bangsa lain di dunia. Olehnya nilai bangsa ini harus terinternaalisasi dalam diri seorang PNS terutama dalam bersikap dan bertindak. Harkat dan martabat ini akan tetap terjaga dimata dunia jika peran dan sikap kita selalu menunjukan yang baik dan berguna bagi seluruh umat manusia. Olehnya itu nilai ini adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dalam sikap perilaku Pegawai Negeri Sipil

  1. Menjadi perekat dan pemersatu bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia

Bangsa Indoenesia terdiri dari berbagai suku, bangsa, ras, agama dan antar golongan. Dari kemajemukan ini diperlukan persatuan dan kesatuan sehingga menjadi potensi yang besar dan akan membawa bangsa ini menjadi bangsa yang besar dan maju. Olehnya itu nilai perekat dan pemersatu bangsa harus tertanam dalam diri seorang PNS karena ia adalah penyelenggara pemerintahan dan pembangunan.

  1. Menaati semua peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam melaksanakan tugas

Negara Indonesia adalah Negara Hukum olehnya itu semua kegiatan dan perilaku diatur oleh hukum, olehnya itu Pegawai Negeri Sipil wajib menaati semua peraturan perundang-undangan yang berlaku tidak hanya sebatas pada undang-undang dan peraturan kepegawaian. Nilai inilah yang harus dijunjung tinggi bahwa PNS adalah selalu taat hokum.

  1. Akuntabel dalam melaksanakan tugas penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan beribawa

Dalam menyelenggarakan tugas pokok sebagai PNS yakni menyelenggarakan tugas-tugas umum pemerintahaan dan pembangunan terutama dalam memeberikan pelayanan kepada masyarakat sebagai bagian dari tugas pokok PNS harus dapat dipertanggungjawabkan,  dan menjalankan roda pemerintahan selalu jujur dan adil sehingga melahirkan pemerintahan yang bersih dan beribawa. Adil berarti ketika memberikan pelayanan public tidak membeda-bedakan masyarakat berdasarkan suku, bangsa, agama, ras dan antar golongan tetapi melihat masyarakat semuanya sama.

  1. Tanggap, terbuka, jujur dan akurat, serta tepat waktu dalam melaksanakan setiap kebijakan dan program pemerintah

Nilai etika ini berarti bahwa setiap Pegawai Negeri Sipil dalam melaksanakan tugas dan fungsinya selalu cekatan, memahami dan mengetahui maksud dan tujuan pekerjaan, sehingga pekerjaan itu dapat diselesaikan sesuai tujuannya, kemudian dalam melaksanakan pekerjaan tersebut selalu berperilaku jujur, akurat serta tepat waktu.

  1. Menggunakan dan memanfaatkan semua sumber daya Negara secara efektif dan efessien

Indonesia memiliki sumber daya alam yang kaya dan luas, olehnya itu ketika mengelola kekayaan alam harus benar-benar dikelola sesuai dengan kemanfaatannya untuk kepenting Negara dan bangsa secara efektif dan efesien tidak boleh mengelolanya untuk kepentingan pribadi maupun golongan apalagi untuk memperkaya diri sendiri.

  1. Tidak memberikan kesaksian palsu atau keterangan yanag tidak benar

Seorang Pegawai Negeri Sipil selalu berperilaku jujur dalam segala hal termasuk ketika memberikan kesaaksian, dia harus bias berkata benar meskipun konsekwensi dirasakan sangat berat, tetapi itulah kejujuran. Karena kejujuran memang harus ditegakan dengan pengorban.

  1. Etika Berorganisasi

Organisasi merupakan wadah berkumpulnya beberapa orang untuk saling kerjasama dalam mencapai tujuan yang telah disepakati bersama. Organisasi dalam etika berdasarkan Peraturan Pemerintahn N0. 42 Tahun 2004 institusi dimana Pegawai Negeri Sipil bekerja dan mengabdikan diri. Dalam Etika berorganisasi nilai-nilainya adalah :

  1. Melaksanakan tugas dan wewenang sesuai ketentuan yang berlaku

Setiap Pegawai Negeri Sipil diangkat dalam pangkat dan jabatan, maka tidak ada Pegawai Negeri Sipil yang tidak memilik jabatan atau  wewenang berdasarkan jabatan yang dijabatnya, apakah ia sebagai administrasi umum, supir, operator dan lain-lain sebagainya. Jabatan itu menunjukan kewenangan, maka setiap Pegawaai Negeri Sipil menjalankan tugasnya sesuai dengan wewenang berdasarkan jabatan yang dijabatnya.

  1. Menjaga informasi yang bersifat rahasia

Nilai etika ini penting karena keberdaan Pegawai Negeri Sipil adaalah sebagai penyelenggara pemerintahan. Dalaam melaksnakan tugas pemerintahan ada informasi yang sifatnya rahasia dan ada informasi yang untuk konsumsi public. Informasi yang sifatnya rahasia Negara daan pemerintahan wajib dijaga demi untuk menjaga stabilitas pemerintahan dan keutuhan negaraKesaatuaan Republik Indonesia

  1. Melaksanakan setiap kebijakan yang ditetapkan oleh pejabat yang berwenang

Kebijakan adalah suatu yang diambil atau tidak diambil dengan tidak melanggar aturan yang ada guna melaksanakan tugas-tugas. Setiap kebijakan yang telah diambil pimpinan instansi atau pejabat yang berwenang wajib dilaksanakan karena ia bagian dari upaya menyelesaiakan tugas –tugas pemerintahan.

  1. Membangun etos kerja untuk meningkatkan kinerja organisas

Etos kerja aparatur adalah kegiatan ataau upaya-upaya untuk menggali dan menerapkan nilai-nilai positif dalam organisasi/instansi pemerintah yang disepakati oleh para anggota (Pegawai Negeri Sipil) untuk meningkatkan produktifitas kerja. Dengan adanya nilai etika ini berarti setiap Pegawa Negeri Sipil dalam melaksanakan tugasnya selalu melakukan inovasi-inovasi baru sehingga setiaap pekejaan itu semakin membaik maka dengan etos kerja tersebut akan terlihat bagaimana kinerja seorang PNS meningkat maka dengan sendirinya kinerja institusi /organisasi juga meningkat,

 

  1. Menjaamin kerjaa sama secara kooperatif dengan unit kerja lain yang terkait dalam rangka pencapaian tujuan

Kerja sama merupakan pola kerja yang harus menjadi budaya kerja aparatur. Nilai etika ini memberikana makna bahwa setiap Pegawai Negeri Sipil di dalam melaksanakan tugasnya harus dapat membangun kerja sama dan tidak boleh lagi kerja hanya dilaksanakan secara individu ataupun sektoral. Suatu pola kerja akan memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan kerja secara individual dalam mencapai suatu tujuan organisasi

  1. Memiliki kompetensi dalam melaksanakan tugas

Etika ini menuntut seorang Pegawai Negeri sipil dalam melaksanakan tugas selalu menggali potensi dirinya guna mencapai kinerja yang lebih baik. Olehnya itu aktualisasi bagi seorang PNS wajib adanya guna memiliki kompetensi. Kompetensi adalah kharakteris berupa pengetahuan, ketarampilan dan sikap perilaku yang dimiliki seorang PNS guna kelancaran pelaksanaan tugas.

  1. Patuh dan taat terhadap standar operasionaldan tata kerja

Dalam melaksanakan tugas kedinasan telah ditetapkaan standar operasional sebagai acuan dan standar kinerja yang telah ditetapkan. Olehnya itu standar tersebut harus dipatuhi sebagai suatu nilaai etika guna mencapai tujuan. Standar operasional dan tata kerja tersebut menjadi pegangan dalam bekerja sehingga kerja tersebut lebih terarah dan dapat mempercepaat pencaapaian tujuan yang dimaiksud.

  1. Mengembangkan pemikiran secara kratif dan inovatif dalam raangka peningkatan kinerja organisasi

Dalam suatu pekerjaan akan semakin membaik jika ditopang oleh suatu pemikiran kreatif dan inovatif , etika ini menuntut dalam setiap pekerja hendaknya dikembangkan pemekiran kreatif untuk mencapai hasil yang lebih baik dari waktu ke waktu. Hasil hari ini akan lebih baik dibandingkan dengaan hari kemarin, dan hasil kerja hari esok akan lebih baik dibandingkan hasil kerja hari ini.  Kunci dari kesemuaanya itu adaalah peengembangan pemikiraan dan inovatif dalam setiap pekerjaan.

  1. Berorientasi pada upaya peningkatan kualitas kerja

Kerja Pegawai Negeri Sipil tidak sekedarnya saja melainkan selalu dilandasi dengan standar kualitas maupun kuantitas , olehnya itu dalam setiap pekerja tidak hanya dituntut untuk pekerjaan itu haarus selesai, tetapi bagaimana pekerjaan itu selesai tetapi selalu mengedepankan kualitas dari hasil kerja tersebut.

 

  1. Etika Bermasyarakat
  2. Mewujudkan pola hidup sederhana

Keberadaan Pegawai Negeri Sipil aadalah menjadi teladan ditengah-tengah masyarakat, oelhnya itu pola hidup sederhana harus menjadi bagiaan dari ekhidupan seorang Pegawai Negeri Sipil sehingga tidak menimbulkan cemburu social ditangah masyaraaakat.

  1. Memberikan pelayanan dengan empati, hormat dan santun, tanpa pamrih dan tanpa unsure pemaksaan

Tugas pokok Pegawai Negeri Sipil adalah memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan jujur,adil dan simpatik tanpa pamrih. Nilai etika seharusnya dikedepankaan karena sebagai bagian dari peeekerjaan PNS, dan dalam memberikan pelayanan harus tanpa pamrih, bukan pekerjaan dikerjakan ketika dijanjikan akan diberikan imbalan ataau hadiah. Akan tetapi pemberian pelayanan itu benar-benar karena rasa tanggungjawab.

  1. Memberikan pelayanan secara cepat, tepat, terbuka, adil serta tidak diskriminatif

Pemberian pelayanan kepada masyarakat tidak saja dilakukan secara sopan, santun dan tanpa pamrih tetapi pelayanan itu juga harus cepat, tepat, terbuka serta tidak diskriminatif, sebab pelayanan yang tidaak tepat waktu akan berakibat pada lambatnya pelayanan yang berakibat pada kerugian masyarakat. Palayanan isin usaha misalnya jika diperlambat sehingga tidak tepaat waktu, tentu akan menimbulkan kerugian bagi masyarakat yang bergerak dibidang usaha.

  1. Tanggap terhadap keadaan lingkungan masyarakat

Etika bermasyarakat ini adalah bagian dari kehidupan PNS, karena Pegawai negeri Sipil berasal dari masraakat dan hidup ditengah-tengah masyarakat. Olehnya itu dalam kehidupan keseharian ia harus tahu apa yang diinginkan oleh masyarakat tentang kehidupannya. Misalnya keinginan masyarakat akan perbaikan infra struktur, tata kelola lingkungan yang sehat serta kerukunan hidup antar umat beragaama, yang kesemuaanya harus ditangkap oleh seorang Pegawai Negeri Sipil

  1. Berorientasi paada peningkatan kesejahteraan masyarakat dalam melaksanakan tugas

Hasil dari pembangunan yang dikerjakan oleh pemerintah, masyaraaakat dan pengusaha adalah berorientasi pada kesejahteraan masyarakat, karena ini adalah tujuan nasional Negara Republik Indonesia sebagaimana yang termaktub pada pembukaan Undang-Undang dasar 1945 yaitu memajukan kesejahteraan umum.

 

  1. Etika Terhadap Diri Sendiri
  2. Jujur dan terbuka serta tidak memberikan informasi yang tidak benar

Jujur adalah nilai etika yang sanagat tinggi bagi seorang Pegawai Negeri Sipil. Dengan kejujuran maka semua pekerjaan akan berhasil dengan baik dan benar. Jujur tidak hanya sebagai etika bagi seorang PNS tetapi ia juga menunjukan tingginya moralitas. Kejujuran inilah sangat diutamakan ketika harus memberikan informasi, sebab dengan informasi yang benar tentu akan melahirkan konsep kerja yang benar dan hasilnyapun akan memberikan kebaikan. Olehnya itu kejujuran ini adalah etika seorang Pegawai Negeri Sipil, artinya ia harus melekat pada diri seorang PNS dan merupakan bagian yang tidaak bisah dipisahkan dalam jiwa dan raga PNS

  1. Bertindak dengan penuh kesungguhan dan ketulusan

Kesungguhan dan ketulusan adalah salah satu kunci keberhasilan, sebab dengan kesungguhan segala pekerjaan akan dapat diselesaikan, meskipun pekerjaan itu terasa sangat berat, tetapi jika dikerjakan dengan kesungguhan dan penuh konsentrasi, serta keikhlasan maka pekerjaan itu terasa mudah dan hasilnyapun akan lebih berkualitas.

  1. Menghindari konflik kepentingan pribadi, kelompok, maupun golongan

Dalam bekerja mapun ketika berinteraksi dengan orang-orang disekeliling lingkungan kerja, konflik kepentingan pribadi, kelompok maupun golongan selalu saja muncul sebagai bagian dari kerja, namun dengan etika seorang PNS seharusnya dapat menghindari kesemuanya itu, sebab kerja seorang PNS tidak berorientasi pada kepentingan pribadi, kelompok mapun golongan, tetapi kepentingan Negara dan bangsa jauh lebih besar dari yang kepentingan lainnya. Dengaan demikian maka kepentingan pribadi, kelompok maupun golongan dapat dihindari dalam bekerja.

  1. Berinsiatif untuk meningkatkan kualitas pengetahuan, kemampuan , keterampilan dan sikap

Kerja seorang Pegawai Negeri Sipil dituntut untuk suatu kualitas, dan untuk memenuhi tuntutan tersebut setidaknya kerja itu selalu dibarengi dengan pengetahuan dan keterampilan serta sikap sehingga akan menghasilkan kerja yang berkualiats. Seorang PNS setiap saat selalu dapat mengakses perkembanagan teknologi dan dapat menyesuaikan dengan skill yang dimiliki, sebab hanaaya dengan demikian kualitas pribadi PNS selalu dapat bersaing ditengah dunia kerja, dan hasilnyapun akan menunjukan produktifitas yang baik.

  1. Memiliki daya juang yang tinggi

Seorang PNS dituntut memiliki semangat juang yang tinggi karena pekerjaan PNS adalah pengabdian kepada bangsa dan Negara. Terselenggaranya tugas-tugas pemerintahan ini sangat ditentukan oleh semangat juang  dimiliki oleh seorang PNS. Semangat juang berarti bekerja tanpa kenal lelah,  mengeluh dan putus asa  atas pengabdian yang dipikulnya.

  1. Memelihara kesehatan jasmani dan rohani

Untuk dapat melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya dan hasil yang maksimal maka salah satu persyaratan pokok adalah terpeliharanya kesehatan jasmani dan rohani bagi PNS. Hal ini penting mengingat tugas yang dipikul seorang Pegawai Negeri Sipil memerlukan kesehatan tubuh dan kecerdasan intelektual. Olehnya etika ini mewajibkan seorang PNS untuk menjaga dan memelihara kesehatannya baaik jasmani maupun rohani

  1. Menjaga keutuhan dan keharmonisan keluarga

Keberhasilan Pegawai Negeri Sipil dalam melaksanakan tugasnya juga ditentukan oleh faaktor keluarga, karena keluarga dapat  membawa dampak tersendiri bagi keberadaan PNS dikantor, terutama dalam melaksanakan tugas. Jika keharmonisan keluarga tercipta maka suasana kebatinan dalam bekerja akan baik sehingga prodiktivitas dapat meningkat, tetapi jika ketidakharmonisan keluarga terjadi juga akan berdampak pada kondisi kejiwaan seorang PNS terutama dalam konsentrasi kerja yang pada akhirnya juga membawa kondisi kerja yang tidak baik

  1. Berpenampilan sederhana, rapih dan sopan

Keberadaan PNS akan selalu menjadi ssorotaan dan teladan ditengah-tengah masyarakat, olehnya itu penampilan seorang PNS setidaknya bisa sesederhaana mungkin, tetapi tetap menjaga kerapihan daan kesopanan.

 

  1. Etika Terhadap Sesama PNS
  2. Saling menghormati  sesama  warga Negara yang memeluk agama/kepercayaan yang berlainan

Etika ini dimaksudkan agar sesama Pegawai Negeri Sipil terjalin hubungan yang harmonis dalam rangka pelaksanaan tugas olehnya itu saling menghormati sesama  warga Negara yang memeluk agama /kepercayaan yang berlainan harus tetap terjaga. Adanya rasa saling hormati menghormati sesama  warga Negara maupun sesaama PNS dapat menciptakan kerukunan umat beragaama maupun kerukunan sesaama umat dalam satu agama. Kerukunan inilah yang menjadi perhatian pemerintah dalam menjalankan tugas pembangunan, karena pembangunan dapat terwujud jika ketertiban daan ketentraman tercipta dalam masyarakat.

  1. Memelihara rasa persatuan dan kesatauan sesame pegawai Negeri Sipil

Rasa persatuan dan kesatuan ini sangat penting bahkan sebagai syarat mutlak dalam proses pembangunan, olehnya itu keberadaan Pegawai Negeri Sipil harus dapat menjadi perekat bangsa

  1. Saling menghormati antar teman sejawat baik secara vertical maupun horizontal dalam suatu unit kerja, instansi, maupun antar instansi

Rasa saling menghormati antar teman sejawat baik secara vertical maupun horizontal sangat diperlukan untuk menciptakan suasana kerja yang baik dan menyenangkan, hal ini penting karena saling menghormati itu dapat menghilangkan kecemasan dalam bekerja sebagai akibat ketidakharmonisan hubungan antar sesama Pegawai Negeri Sipil.

  1. Menghargai perbedaaan pendapat

Etika menghargai perbedaan pendapat merupakan ciri dari demokrasi birokrasi yang akhir-akhir ini telah dikembangkan sebagi budaya kerja aparatur, pentingnya etika ini karena untuk mencapai suatu pemikiran yang akurat tidak hanya pikiran itu datang dari atas tetapi pemikiran dari bawah juga sama pentingnya, sehingga dengan demikian dalam suatu musyawarah untuk mencapai mufakat selalu adanya perdebatan tetapi perbedaan pendapat itu mengarah pada satu pendapat yang disepakati berssama dan menjadi acuan dalam bertindak.

  1. Menjunjung tinggi harkat dan martabat Pegawai Negeri Sipil

Etika ini menuntut agar Pegawai Negeri Sipil selalu menjunjung tinggi harkat dan martabatnya dalam artian bahwa Pegawai Negeri Sipil selalu menjaaga nama baik korps Pegawai Negeri Sipil, hal ini menuntun agar sikaap dan perilaaku harus selalu sesuai dengan nilai-nilai etika. Sekali melakukan perbuatan yang tercela akan berakibat pada pencemaran nama baik Pegawai Negeri Sipil dan dengan sendirinya martabat PNS akan jatuh.

  1. Menjaga dan menjalin kerja sama yang kooperatif sesame Pegawai Negeri Sipil

Kerjama dalam suatu pekerjaan adalah etika PNS karena dengan kerjama yang terjalin dengan baik akan membawa hasil yang selalu maksimal. Sudah bukan lagi zaaman untuk bekerja secara sendiri-sendiri, tetapi kerja itu selalu dilakukan secara bersama-sama.

  1. Terhimpun dalam satu wadah Korps Pegawai Republik Indonesia yang menjamin terwujudnya solidaritas dan solidaritas sesame Pegawai Negeri Sipil dalam meperjuangkan hak-haknya

Pegawai Negeri Sipil perlu ditopaang oleh suatu wadah organisasi yang dapat menambung aspirasi dan memperjuangkannya demi mencapai kesejahteraan anggotanya. Dengan adanya wadah tersebut berarti pembinaan Pegawai Negeri Sipil dapat dilakukan secara mudah dan mewujudkan ras solidaritas akan cepat terjalin dengan berhimpunnya seluruh PNS dalam waaaaadah Korps Pegawai Negeri Sipil

Selain Kode Etik yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 tahun 2004 disyaratkan pula kepada  pejabat Pembina kepegawaian untuk membuat kode etik instansi atau kode etik profesi sesuai dengan jabatan fungsional yang ada diinstansi tersebut dengan memperhatian karakteristik dari instansi tersebut.

STANDARD TEKNIK DAN MANAJEMEN

  1. Pengertian Standar Teknik

Standard Teknik adalah serangkaian eksplisit persyaratan yang harus dipenuhi oleh bahan, produk, atau layanan. Jika bahan, produk atau jasa gagal memenuhi satu atau lebih dari spesifikasi yang berlaku, mungkin akan disebut sebagai berada di luar spesifikasi. Sebuah standard teknik dapat dikembangkan secara pribadi, misalnya oleh suatu perusahaan, badan pengawas, militer, dll: ini biasanya di bawah payung suatu sistem manajemen mutu .

Mereka juga dapat dikembangkan dengan standar organisasi yang sering memiliki lebih beragam input dan biasanya mengembangkan sukarela standar : ini bisa menjadi wajib jika diadopsi oleh suatu pemerintahan, kontrak bisnis, dll.

Istilah standard teknik yang digunakan sehubungan dengan lembar data (atau lembar spec). Sebuah lembar data biasanya digunakan untuk komunikasi teknis untuk menggambarkan karakteristik teknis dari suatu item atau produk. Hal ini dapat diterbitkan oleh produsen untuk membantu orang memilih produk atau untuk membantu menggunakan produk.

  1. Penggunaan Standard Teknik

Dalam rekayasa, manufaktur, dan bisnis, sangat penting bagi pemasok, pembeli, dan pengguna bahan, produk, atau layanan untuk memahami dan menyetujui semua persyaratan. Standard teknik adalah jenis sebuah standar yang sering dirujuk oleh suatu kontrak atau dokumen pengadaan. Ini menyediakan rincian yang diperlukan tentang persyaratan khusus. Standard teknik dapat ditulis oleh instansi pemerintah, organisasi standar (ASTM, ISO, CEN, dll), asosiasi perdagangan, perusahaan, dan lain-lain.

Sebuah standard teknik produk tidak harus membuktikan suatu produk benar. Item mungkin diverifikasi untuk mematuhi standard teknik atau dicap dengan nomor standard teknik: ini tidak, dengan sendirinya, menunjukkan bahwa item tersebut adalah cocok untuk penggunaan tertentu. Orang-orang yang menggunakan item (insinyur, serikat buruh, dll) atau menetapkan (item bangunan kode, pemerintah, industri, dll) memiliki tanggung jawab untuk mempertimbangkan pilihan standard teknik yang tersedia, tentukan yang benar, menegakkan kepatuhan, dan menggunakan item dengan benar. Validasi kesesuaian diperlukan.

Dalam kemampuan proses pertimbangan sebuah standard teknik yang baik, dengan sendirinya, tidak selalu berarti bahwa semua produk yang dijual dengan standard teknik yang benar-benar memenuhi target yang terdaftar dan toleransi. Realisasi produksi dari berbagai bahan, produk, atau layanan yang melekat dengan melibatkan variasi output. Dengan distribusi normal, proses produksi dapat meluas melewati plus dan minus tiga standar deviasi dari rata-rata proses. Kemampuan proses bahan dan produk harus kompatibel dengan toleransi teknik tertentu. Adanya proses kontrol dan sistem manajemen mutu efektif, seperti Total Quality Management, kebutuhan untuk menjaga produksi aktual dalam toleransi yang diinginkan.

  1. Macam Macam Standar Teknik

3.1 ASME (American Society of Mechanical Engineers)

asme

ASME, didirikan sebagai American Society of Mechanical Engineers, adalah asosiasi profesional yang, dalam kata-kata sendiri, “mempromosikan seni, ilmu pengetahuan, dan praktik rekayasa multidisiplin ilmu dan sekutu di seluruh dunia.”Ia menyelesaikan promosi melalui “terus, kode pendidikan, pelatihan dan pengembangan profesional dan standar, penelitian, konferensi dan publikasi, hubungan dengan pemerintah, dan bentuk lain dari jangkauan.”  ASME demikian masyarakat teknik, organisasi standar, penelitian dan pengembangan organisasi, sebuah organisasi lobi, penyedia pelatihan dan pendidikan, dan organisasi nirlaba. Didirikan sebagai masyarakat rekayasa berfokus pada teknik mesin di Amerika Utara,

ASME adalah hari ini multidisiplin dan global. Visi organisasi lain adalah menjadi organisasi utama untuk mempromosikan seni, ilmu pengetahuan dan praktek teknik mesin dan multidisiplin ilmu dan sekutu bagi masyarakat yang beragam di seluruh dunia.  Misinya adalah untuk mempromosikan dan meningkatkan kompetensi teknis dan profesional kesejahteraan anggotanya, dan melalui program kualitas dan kegiatan di teknik mesin, lebih memungkinkan praktisi untuk memberikan kontribusi pada kesejahteraan umat manusia.  ASME memiliki lebih 120.000 anggota di lebih dari 150 negara di seluruh dunia.

ASME didirikan pada 1880 oleh Alexander Lyman Holley, Henry Rossiter Worthington, John Edison Sweet and Matthias N. Forney dalam menanggapi berbagai kegagalan uap boiler tekanan pembuluh .

Organisasi ini dikenal untuk menetapkan kode dan standar untuk perangkat mekanis. ASME melakukan salah satu operasi terbesar di dunia penerbitan teknis melalui nya ASME Press,  menyelenggarakan konferensi teknis banyak dan ratusan kursus pengembangan profesional setiap tahun, dan mensponsori penjangkauan banyak dan program pendidikan.
Nilai-nilai inti meliputi:

  1. Merangkul  integritas dan perilaku etis
  2. Merangkul keragaman dan menghormati martabat dan budaya dari semua orang
  3. Memelihara dan menghargai lingkungan dan sumber daya alam kita dan buatan manusia
  4. Memfasilitasi pengembangan, penyebaran dan penerapan pengetahuan teknik
  5. Mempromosikan manfaat dari pendidikan berkelanjutan dan pendidikan teknik
  6. Menghormati dan dokumen sejarah rekayasa sementara terus merangkul perubahan
  7. Meningkatkan kontribusi teknis dan sosial dari insinyur

3.2 ANSI (the American National Standards Institute)

ANSI

   American National Standards Institute (ANSI) adalah sebuah lembaga nirlaba swasta yang mengawasi pengembangan standar konsensus sukarela untuk produk, jasa, proses, sistem, dan personil di Amerika Serikat. Lembaga tersebut mengawasi pembuatan, diberlakukannya, dan penggunaan ribuan norma dan pedoman yang secara langsung berdampak bisnis di hampir setiap sektor.

Lembaga tersebut juga mengkoordinasikan standar Amerika Serikat dengan standar internasional sehingga produk-produk Amerika Serikat dapat digunakan di seluruh dunia. Lembaga tersebut memberi akreditasi untuk standar yang yang dikembangkan oleh perwakilan dari lembaga pengembang standar, instansi pemerintah, kelompok konsumen, perusahaan, dan lain-lain. Standar tersebut memastikan agar karakteristik dan kinerja produk yang konsisten sehingga masyarakat menggunakan definisi dan istilah yang sama, dan produk diuji dengan cara yang sama. ANSI juga memberi akreditasi bagi organisasi yang melaksanakan sertifikasi produk atau personel sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan dalam standar internasional.

American National Standards Institute didirikan pada tanggal 19 Oktober 1918 dengan misi untuk meningkatkan daya saing global bagi bisnis dan kualitas hidup Amerika Serikat dengan mempromosikan serta memfasilitasi standar konsensus sukarela dan sistem penilaian kesesuaian.

3.3 ASTM (American Standard Testing and Material)

ASTM

   ASTM Internasional merupakan organisasi internasional sukarela yang mengembangkan standardisasi teknik untuk material, produk, sistem dan jasa. ASTM Internasional yang berpusat di Amerika Serikat.
ASTM merupakan singkatan dari American Society for Testing and Material, dibentuk pertama kali pada tahun 1898 oleh sekelompokinsinyur dan ilmuwan untuk mengatasi bahan baku besi pada rel kereta api yang selalu bermasalah. Sekarang ini, ASTM mempunyai lebih dari 12.000 buah standar. Standar ASTM banyak digunakan pada negara-negara maju maupun berkembang dalam penelitian akademisi maupun industri.

Standar yang dihasilkan oleh ASTM International jatuh ke dalam enam kategori :

  • Standar Spesifikasi , yang mendefinisikan persyaratan yang harus dipenuhi oleh subjek standar .
  • Metode Uji Standar , yang mendefinisikan cara tes dilakukan dan ketepatan hasil . Hasil tes dapat digunakan untuk menilai kepatuhan dengan standar Spesifikasi .
  • Praktek Standard , yang mendefinisikan urutan operasi yang , tidak seperti Metode Uji Standar , tidak menghasilkan hasil .
  • Standar Panduan, yang menyediakan sebuah koleksi terorganisir dari informasi atau serangkaian pilihan yang tidak merekomendasikan aksi tertentu .
  • Klasifikasi Baku , yang menyediakan pengaturan atau pembagian bahan , produk , sistem , atau layanan ke dalam kelompok berdasarkan karakteristik yang sama seperti asal , komposisi , sifat , atau penggunaan .
  • Standar Terminologi , yang menyediakan definisi istilah yang digunakan dalam standar lain yang disepakati .

Kualitas standar adalah sedemikian rupa sehingga mereka sering digunakan di seluruh dunia .

Keanggotaan dan Organisasi

Keanggotaan dalam organisasi terbuka bagi siapa saja yang berkepentingan dengan kegiatannya . Standar dikembangkan dalam komite , dan komite baru dibentuk sesuai kebutuhan , atas permintaan dari anggota tertarik . Keanggotaan di sebagian besar komite bersifat sukarela dan diprakarsai oleh permintaan anggota sendiri , bukan oleh janji atau undangan . Anggota diklasifikasikan sebagai pengguna , produsen , konsumen , dan ” kepentingan umum ” . Yang terakhir termasuk akademisi dan konsultan . Pengguna termasuk pengguna industri , yang mungkin produsen dalam konteks komite teknis lainnya , dan pengguna akhir seperti konsumen . Dalam rangka memenuhi persyaratan undang-undang antitrust , produsen harus merupakan kurang dari 50 % dari setiap komite atau subkomite , dan orang yang dibatasi satu per perusahaan produsen . Karena pembatasan ini , bisa ada daftar tunggu besar produsen mencari keanggotaan organisasi pada komite yang lebih populer . Anggota bisa, bagaimanapun , berpartisipasi tanpa suara formal dan masukan mereka akan sepenuhnya dipertimbangkan .

Pada 2014 , ASTM memiliki lebih dari 30.000 anggota , termasuk lebih dari 1.150 anggota organisasi , dari lebih dari 150 negara . ASTM International menyajikan beberapa penghargaan untuk kontribusi dengan standar penulisan , termasuk ASTM International Award of Merit ( penghargaan tertinggi organisasi ) ASTM International diklasifikasikan oleh Amerika Serikat internal Revenue Service sebagai 501 ( c ) ( 3 ) organisasi nirlaba .

3.4 AISI  (American Iron and Steel Institute )

AISI

   American Iron and Steel Institute (AISI) adalah asosiasi produsen baja Amerika Utara. Organisasi pendahulunya tanggal kembali ke 1855 membuatnya menjadi salah satu asosiasi perdagangan tertua di Amerika Serikat. AISI diasumsikan bentuk yang sekarang pada tahun 1908, dengan Elbert H. Gary, ketua United States Steel Corporation, sebagai presiden pertama.

Perkembangannya adalah sebagai tanggapan terhadap kebutuhan lembaga koperasi dalam industri besi dan baja untuk mengumpulkan dan menyebarkan statistik dan informasi, membawa pada penyelidikan, menyediakan forum untuk diskusi masalah dan memajukan kepentingan industri.

AISI menjelaskan tujuan sebagai berikut: Untuk mempengaruhi kebijakan publik, mendidik dan membentuk opini publik dalam mendukung, industri baja yang kuat yang berkelanjutan AS dan Amerika Utara berkomitmen untuk produk manufaktur yang memenuhi kebutuhan masyarakat.

Anggota AISI membuat lebih dari 80% dari baja yang diproduksi di Amerika Utara. Lembaga ini berbicara atas nama industri pada beragam isu. Perusahaan anggota AISI terletak di Kanada, Meksiko dan Amerika Serikat. Lembaga ini bertujuan untuk mengembangkan posisi terpadu pada isu-isu yang menjadi perhatian bersama bagi Amerika Utara Perjanjian Perdagangan Bebas (NAFTA) daerah. Melalui AISI, industri ini mampu bekerja melalui kemitraan kolaboratif dan mengejar program pengembangan pasar bertujuan untuk memperluas pasar untuk baja, proyek yang bertujuan praktek terbaik dalam pembuatan baja dan inisiatif yang dirancang untuk mencapai tonggak baru dalam efisiensi energi dan keberlanjutan penelitian dan pengembangan (R & D).

Kemitraan

·         Auto/Steel Partnership

        The Auto / Kemitraan Baja (A / SP) [9] adalah konsorsium Komite AISI Otomotif Aplikasi, DaimlerChrysler Corporation, [10] Ford Motor Company, dan General Motors Corporation. Hal ini didedikasikan untuk memastikan bahwa baja adalah bahan pilihan di pasar otomotif.

·         Canned Food Alliance

The Kaleng Alliance Food (CFA) [11] adalah konsorsium pembuat baja, bisa pembuat, pengolah makanan dan merek makanan kaleng yang telah bergabung bersama untuk mempromosikan manfaat gizi dan kenyamanan makanan kaleng.

  • Metal Roofing Alliance

Metal Roofing Alliance (MRA) [12] adalah koalisi yang terdiri dari AISI, produsen atap logam, pemasok cat dan coaters, dealer, asosiasi industri logam, dan kontraktor atap. Misinya adalah untuk mendidik konsumen dan kontraktor tentang nilai dan umur panjang dari atap logam untuk aplikasi perumahan.

  • The National Baja Bridge Alliance

The National Baja Bridge Alliance adalah sebuah organisasi industri terpadu usaha dan lembaga berkomitmen untuk mengembangkan, promosi dan konstruksi jembatan baja. Ini dibentuk bersama oleh AISI dan American Institute of Steel Construction (AISC). Tujuannya adalah untuk membuat baja bahan pilihan untuk konstruksi jembatan.

  • Steel Framing Alliance

Steel Framing Alliance (SFA) [15] didirikan oleh AISI pada tahun 1998 untuk mempercepat penggunaan cahaya-gauge framing baja dalam konstruksi. Steel Framing Aliansi memberikan solusi framing baja untuk industri konstruksi komersial perumahan dan cahaya.

  • Steel Recycling Institute

Steel Recycling Institute (SRI), sebuah unit bisnis dari AISI, mempromosikan dan memelihara daur ulang pasca-konsumen dari semua produk baja. SRI mendidik industri limbah padat, pemerintah, bisnis, masyarakat lingkungan dan konsumen tentang manfaat siklus daur ulang yang tak terbatas baja.

  • Metal Initiative

Metal Initiative (TMI) adalah program industri-lebar yang dirancang untuk mendidik pemilik bangunan, arsitek, dan kontraktor tentang penggunaan dan pemilihan atap metal dan dinding pada bangunan komersial, industri, dan kelembagaan.

3.5 NNI (National Nanotechnology Initiative)

NNI

The National Nanotechnology Initiative adalah program pemerintah federal Amerika Serikat untuk ilmu pengetahuan, teknik, dan penelitian dan pengembangan teknologi untuk proyek-proyek berskala nano.

The NNI berfungsi sebagai titik pusat komunikasi, kerjasama, dan kolaborasi untuk semua lembaga Federal terlibat dalam penelitian nanoteknologi, menyatukan keahlian yang dibutuhkan untuk memajukan bidang yang luas dan kompleks ini.” peserta Initiative (dikutip di bawah) menyatakan bahwa yang empat gol yang kememajukan penelitian kelas dunia nanoteknologi dan pengembangan program (R & D); mendorong transfer teknologi baru ke dalam produk untuk kepentingan komersial dan publik; mengembangkan dan mempertahankan sumber daya pendidikan, tenaga kerja terampil, dan infrastruktur pendukung dan alat untuk memajukan nanoteknologi; dan mendukung pengembangan bertanggung jawab nanoteknologi.

Presiden George W. Bush semakin meningkatkan pendanaan untuk nanoteknologi. Pada 3 Desember 2003 Bush menandatangani menjadi undang-undang abad ke-21 Nanoteknologi Penelitian dan Pengembangan Act (Hukum Publik 108-153 ), yang memberikan kewenangan pengeluaran selama lima lembaga yang berpartisipasi sebesar $ 3630000000 selama empat tahun. . Hukum ini adalah otorisasi, bukan apropriasi, dan alokasi selanjutnya selama lima lembaga ini belum memenuhi tujuan yang ditetapkan dalam Undang-Undang tahun 2003

Pada bulan Desember 2007 Nanoteknologi Initiative Nasional merilis Rencana Strategis menguraikan tujuan diperbarui dan “komponen Program daerah” , “seperti yang disyaratkan dalam ketentuan Undang-Undang. Ini mengikuti Rencana Strategis dirilis pada bulan Desember 2004.

Suplemen anggaran NNI diusulkan oleh pemerintahan Obama untuk Tahun Anggaran 2009 akan tumbuh menjadi $ 1,5 miliar.

3.6 ISO (International Organization for Standardization)ISO

   Organisasi Internasional untuk Standardisasi (bahasa Inggris: International Organization for Standardization), (bahasa Perancis:Organisation internationale de normalisation) atau biasa disingkat ISO adalah badan penetap standar internasional yang terdiri dari wakil-wakil dari badan standardisasi nasional setiap negara. Dikarenakan singkatan dari masing-masing bahasa berbeda (IOS dalam bahasa Inggris dan OIN dalam bahasa Perancis) maka para pendirinya menggunakan singkatan ISO, (diambil daribahasa Yunani: isos) yang berarti sama (equal). Penggunaan ini dapat dilihat pada kata isometrik atau isonomi.

Didirikan pada 23 Februari 1947, ISO menetapkan standar-standar industrial dan komersial dunia. ISO merupakan lembaga nirlaba internasional, pada awalnya dibentuk untuk membuat dan memperkenalkan standardisasi internasional untuk apa saja. Standar yang sudah kita kenal antara lain standar jenis film fotografi, ukuran kartu telepon, kartu ATM Bank, ukuran dan ketebalan kertas dan lainnya.

Dalam menetapkan suatu standar tersebut mereka mengundang wakil anggotanya dari 130 negara untuk duduk dalam Komite Teknis (TC), Sub Komite (SC) dan Kelompok Kerja (WG). Peserta ISO termasuk satu badan standar nasional dari setiap negara dan perusahaan-perusahaan besar.

ISO bekerja sama dengan Komisi Elektroteknik Internasional (IEC) yang bertanggung jawab terhadap standardisasi peralatan elektronik.

Penerapan

Penerapan ISO di suatu perusahaan berguna untuk:

  • Meningkatkan citra perusahaan
  • Meningkatkan kinerja lingkungan perusahaan
  • Meningkatkan efisiensi kegiatan
  • Memperbaiki manajemen organisasi dengan menerapkan perencanaan, pelaksanaan, pengukuran dan tindakan perbaikan (plan, do, check, act)
  • Meningkatkan penataan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan dalam hal pengelolaan lingkungan
  • Mengurangi risiko usaha
  • Meningkatkan daya saing
  • Meningkatkan komunikasi internal dan hubungan baik dengan berbagai pihak yang berkepentingan
  • Mendapat kepercayaan dari konsumen/mitra kerja/pemodal

3.7 API (American Petroleum Institute)

API

API atau American Petroleum Institute adalah suatu “Main US trade association ” untuk Industry Oil and Gas yang mewakili sekitar 400 Perusahaan yang tersebar di Production, Refinement and Distribution, serta industry lainnya, kadang juga disebut sebagai AOI atau American Oil Industry. Sejak tahun 1924, API sudah membuat standard untuk keperluan Industry Minyak dan Gas Alam dunia.

Fungsi utama asosiasi atas nama industri termasuk advokasi dan negosiasi dengan lembaga-lembaga pemerintah, hukum, dan peraturan; penelitian dampak ekonomi, toksikologi, dan lingkungan; pembentukan dan sertifikasi standar industri; dan penjangkauan pendidikan [2] API baik dana dan. melakukan penelitian yang berkaitan dengan banyak aspek dari industri minyak bumi [2] The CEO saat ini adalah Jack Gerard..

PI mendistribusikan lebih dari 200.000 eksemplar publikasi setiap tahun. Publikasi, standar teknis, dan produk elektronik dan online yang dirancang, menurut API sendiri, untuk membantu pengguna meningkatkan efisiensi dan efektivitas biaya operasi mereka, sesuai dengan persyaratan legislatif dan peraturan, dan menjaga kesehatan, menjamin keamanan, dan melindungi lingkungan hidup. Setiap publikasi diawasi oleh komite profesional industri, sebagian besar insinyur perusahaan anggota.

Saat ini API memantain sekitar 550 Standard yang meliputi seluruh aspek didalam Industry Minyak dan Gas Alam. API juga ikut terlibat secara aktif didalam pembuatan dan pengembangan ISO atau International Standard Organization yang juga sesuai untuk digunakan di dunia industry secara umum.

Setiap tahunnya lebih dari 100,000 publications disebar keseluruh penjuru dunia oleh API.

American Petroleum Institute
1220 L Street, NW
Washington DC 20005-4070
USA

3.8 ASCE (American Society of Civil Engineers)

ASCE

The American Society of Civil Engineers (ASCE) adalah sebuah badan bebas pajak profesional yang didirikan pada tahun 1852 untuk mewakili anggota profesi teknik sipil di seluruh dunia. Berbasis di Reston, Virginia, itu adalah masyarakat rekayasa nasional tertua di Amerika Serikat.

ASCE didirikan di New York City pada tanggal 5 November 1852, ketika dua belas insinyur-Julius W. Adams, JW Ayres, Alfred W. Craven, Thomas A. Emmet, Edward Gardiner, Robert B. Gorsuch, George S. Greene, James Laurie , WH Morell, SS Post, WH Talcott, dan WH Sidell-bertemu di kantor Croton Aqueduct dan membentuk American Society of Civil Engineers dan Arsitek. Itu masyarakat rekayasa nasional pertama dibuat di Amerika Serikat. Pada tahun 1869 yang “Arsitek” dijatuhkan dari nama, sebagai arsitek membentuk masyarakat sendiri, American Institute of Architects, pada tahun 1857.

Sebagai bagian dari pemahaman sejarah teknik sipil dan mempromosikan profesi teknik sipil, survei dari prestasi bersejarah insinyur sipil terus dilakukan oleh anggota ASCE. Ulasan tersebut prestasi teknik sipil telah menghasilkan berbagai daftar kategori penting dan proyek profesi.

Misi

ASCE adalah organisasi permanen yang mewakili profesi teknik sipil di Amerika Serikat. Misinya adalah untuk “memberikan nilai penting untuk anggota dan mitra kami, memajukan teknik sipil, dan melayani kepentingan publik”. ASCE berusaha untuk “memfasilitasi kemajuan teknologi”, “mendorong dan menyediakan alat untuk belajar seumur hidup”, meningkatkan profesionalisme, mempengaruhi kebijakan publik, “mengembangkan dan mendukung pemimpin insinyur sipil”, dan “infrastruktur pendukung dan kepedulian terhadap lingkungan”.

ASCE adalah penerbit terbesar di dunia informasi teknik sipil – Memproduksi lebih dari 55.000 halaman konten teknis setiap tahun. The ASCE Divisi Publikasi menghasilkan 33 jurnal profesional (tersedia baik di media cetak dan edisi online), prosiding konferensi, standar, buku pedoman praktek, laporan panitia, dan monograf. Sebuah 200.000-entri basis data teknik sipil tersedia di situs web mereka, bersama dengan banyak sumber daya lain untuk berlatih insinyur sipil, termasuk katalog publikasi lengkap dan Perpustakaan ASCE, yang menyediakan akses ke lebih dari 600.000 halaman artikel jurnal dan prosiding. ASCE juga menerbitkan Teknik Sipil, majalah resmi Masyarakat; ASCE Berita; dan Geo-Strata.

ASCE adalah organisasi terakreditasi oleh American National Standards Institute (ANSI) yang menghasilkan standar konsensus di bawah arahan Kode dan Standar Kegiatan Komite. Teknik Sipil Sertifikasi Inc (CEC), berafiliasi dengan ASCE, telah dibentuk untuk mendukung khusus akademi sertifikasi untuk spesialisasi teknik sipil. Komite Infrastruktur Kritis (CCI) memberikan visi dan bimbingan pada kegiatan yang berkaitan dengan ASCE ketahanan infrastruktur kritis, termasuk perencanaan, desain, konstruksi, O & M, dan mitigasi acara, respon dan pemulihan. ASCE juga menjabat sebagai Sekretariat Infrastruktur Kemitraan Keamanan (TiSP), kemitraan nirlaba yang berfokus pada peningkatan dibangun lingkungan bangsa. Berafiliasi dengan ASCE, TiSP, menyediakan sistem rating keamanan multidisiplin untuk bangunan dan bersertifikat profesional membangun keamanan credential untuk individu. [6]

ASCE mendorong afiliasinya untuk mendukung masyarakat dan urusan pemerintahan kegiatan negara bagian dan lokal, khususnya melalui upaya Program Kontak Key akar rumput tersebut. Isu-isu prioritas federal Society untuk Kongres ke-110 adalah air bersih, air minum, dan air limbah, pendidikan matematika dan sains, mitigasi bencana alam dan keamanan infrastruktur, Kualifikasi Seleksi Berdasarkan untuk jasa teknik, pertumbuhan / pembangunan berkelanjutan cerdas dan infrastruktur transportasi. Isu-isu prioritas negara adalah masalah infrastruktur, perizinan, matematika dan ilmu pendidikan, pengadaan jasa profesional, pertumbuhan pintar, dan infrastruktur transportasi. [Rujukan?]

3.9 JIS (JAPANESE INDUSTRIAL STANDARD)

JIS

Standar Industri Jepang (JIS) menentukan standar yang digunakan untuk kegiatan industri di Jepang. Proses standarisasidikoordinasikan oleh Jepang Komite Standar Industri dan dipublikasikan melaluiAsosiasi Standar Jepang.

Di era Meiji, perusahaan swasta bertanggung jawab untuk membuat standar meskipun pemerintah Jepang tidak memiliki standar dan dokumen spesifikasiuntuk tujuan pengadaan untuk artikel tertentu, seperti amunisi. Ini diringkas untuk membentuk standar resmi (JES lama) pada tahun 1921.Selama Perang Dunia II, standar disederhanakan didirikan untuk meningkatkan produksi materiil.

Organisasi Jepang ini Standards Association didirikan setelah kekalahan Jepangdalam Perang Dunia II pada 1945. Para Industri Jepang Komite Standarperaturan yang diundangkan pada tahun 1946, standar Jepang (JES baru) dibentuk.

Hukum Standardisasi Industri disahkan pada 1949, yang membentuk landasanhukum bagi Standar hadir Industri Jepang (JIS).

Hukum Standardisasi Industri direvisi pada tahun 2004 dan “JIS tanda”  (produksistem sertifikasi) diubahsejak 1 Oktober 2005, baru JIS tanda telah diterapkan pada sertifikasi ulang.

Penggunaan tanda tua diizinkan selama masa transisi tiga tahun (sampai 30 September 2008), dan setiap produsen mendapatkansertifikasi baru atau memperbaharui bawah persetujuan otoritas telah mampuuntuk menggunakan merek JIS baru. Oleh karena itu semua JIS-bersertifikatproduk Jepang telah memiliki JIS tanda baru sejak 1 Oktober 2008.

3.10 DIN (Deutsches Institut für Normung )

DIN

Deutsches Institut für Normung e.V. (DIN; dalam bahasa Indonesia, Institut Jerman untuk Standardisasi) adalah organisasi nasional Jerman untuk standardisasi dan adalah negara anggota ISO tubuh.

DIN adalah Jerman Terdaftar Association (eV) yang berkantor pusat di Berlin. Saat ini ada sekitar tiga puluh ribu DIN Standar, meliputi hampir semua bidang teknologi.
Didirikan pada 1917 sebagai Deutschen der Normenausschuß Industrie (NADI, “Standardisasi Komite Industri Jerman”), NADI ini berganti nama Deutscher Normenausschuß (DNA, “Komite Standardisasi Jerman”) pada tahun 1926 untuk mencerminkan bahwa organisasi sekarang berurusan dengan masalahstandardisasi di banyak bidang; yaitu, tidak hanya untuk produk industri.. Pada tahun 1975 namanya diubah lagi untuk Deutsches Institut für Normung, atau ‘DIN’dan diakui oleh pemerintah Jerman sebagai badan nasional standar resmi, mewakili kepentingan Jerman di tingkat internasional dan Eropa.
Akronim, ‘DIN,’ sering salah diperluas sebagai Deutsche Industrienorm (“StandarIndustri Jerman”). Hal ini sebagian besar disebabkan oleh asal bersejarah DINsebagai “NADI”. NADI memang diterbitkan standar mereka sebagai DI-Norm(Deutsche Industrienorm). Misalnya, standar pertama yang diterbitkan adalah ‘DI-Norm 1′ (sekitar pin meruncing) pada tahun 1918. Banyak orang masih keliruDIN asosiasi dengan konvensi DI-Norm tua penamaan.
Salah satu yang paling awal, dan mungkin yang paling terkenal, adalah DIN 476 – standar yang memperkenalkan ukuran kertas A-series tahun 1922 – yang diadopsi pada tahun 1975 sebagai Standar Internasional ISO 216. Contoh umumdalam teknologi modern termasuk DIN dan mini-DIN konektor.

Macam-macam standar DIN 

Penetapan standar DIN menunjukkan asal-usulnya (# menunjukkan angka):
DIN # digunakan untuk standar Jerman dengan signifikansi terutama domestikatau dirancang sebagai langkah pertama menuju status internasional. E DIN # adalah rancangan standar dan DIN V # adalah standar awal.
DIN EN # digunakan untuk edisi Jerman standar Eropa.
DIN ISO # digunakan untuk edisi Jerman standar ISO.
DIN EN ISO # digunakan jika standar ini juga telah diadopsi sebagai standar Eropa.

3.11 SNI (Standar Nasional Indoesia)

SNI

Salah satu contoh standart teknik adalah SNI ( Standart Nasional Indonesia ). SNI adalah satu – satunya standart yang berlaku secara nasional di Indonesia, dimana semua produk atau tata tertib pekerjaan harus memenuhi standart SNI ini. Agar SNI memperoleh keberterimaan yang luas antara para stakeholder, maka SNI dirumuskan dengan memenuhi WTO Code of good practice, yaitu:

  1. Openess: Terbuka agar semua stakeholder dapat berpartisipasi dalam pengembangan SNI;
  2. Transparency:agar stakeholder yang berkepentingan dapat mengikuti perkembangan SNI dari tahap pemrograman dan perumusan sampai ke tahap penetapannya.
  3. Consensus and impartiality: agar semua stakeholder dapat menyalurkan kepentingannya dan diperlakukan secara adil;
  4. Effectiveness and relevance:memfasilitasi perdagangan karena memperhatikan kebutuhan pasar dan tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
  5. Coherence:Koheren dengan pengembangan standar internasional agar perkembangan pasar negara kita tidak terisolasi dari perkembangan pasar global dan memperlancar perdagangan internasional.
  6. Development dimension(berdimensi pembangunan): agar memperhatikan kepentingan publik dan kepentingan nasional dalam meningkatkan daya saing perekonomian nasional.

SNI dirumuskan oleh Panitia Teknis dan ditetapkan oleh BSN yaitu untuk membina, mengembangkan serta mengkoordinasikan kegiatan di bidang standardisasi secara nasional menjadi tanggung jawab Badan Standardisasi Nasional (BSN).

Contoh Standart Nasional Indonesia yang telah diterapkan di Indonesia salah satunya adalah tentang penggunaan Informasi dan Dokumentasi – Internasional Standard Serial Number (ISSN). SNI ini merupakan adopsi identic dari ISO 3297:2007, ini dirumuskan oleh Panitia Teknis 01-03, Informasi dan Dokumentasi, dan telah dibahas dirapat konsensus pada 21 November 2007 di Jakarta. Rapat dihadiri oleh wakil dari produsen, kelompok pakar, himpunan profesi, dan instansi terkait lainnya.

Kebutuhan kode pengenal ringkas dan unik sudah menjadi kebutuhan bagi semua pihak, pertukaran informasi yang baik diantara perpustakaan, produsen abstrak, dan pengguna data, maupun diantara pemasok, distributor dan perantara lainnya menyebabkan terciptanya kode standart. Standart nasional ini menjelaskan dan memasyarakatkan penggunaan kode stansart (ISSN) sebagai identifikasi unik untuk terbitan berseri dan sumber daya berlanjut lainnya.

ISSN adalah nomor denan 8 digit, termasuk digit cek, dan diketahui oleh ISSN yang diberikan kepada sumberdaya berlanjut oleh jaringan ISSN.

Susunan ISSN :

  • ISSN terdiri atas delapan digit berupa angka 0 sampai 9, kecuali digit terakhir (posisi paling kanan) yang dapat juga berupa huruf besar X. digit terakhir dapat menjadi digit cek.
  • Digit cek dihitung berdasarkan modulus 11 dengan bobot 8 sampai 2 dan X harus digunakan sebagai digit cek bila digit cek adalah 10.
  • ISSN harus didahului dengan singkatan ISSN dan satu spasi, serta ditampilkan dalam dua kelompok yang masing – masing terdiri atas empat digit yang dipisahkan oleh tanda hugung. Contoh : ISSN 0251 – 1479.

Pemberian ISSN

  • ISSN hanya diberikan oleh pusat dalam jaringan ISSN. Jaringan ISSN adalah lembaga kolektifyang terdiri atas Pusat Internasional ISSN serta pusat nasional dan regional yang menjalankan administrasi pemberian ISSN.
  • Metadata untuk sumber daya berlanjut yang mendapatkan ISSN harus dikumpulkan dan diserahkan pada waktu yang ditentukan oleh Pusat Internasional ISSN ke Register ISSN oleh pusat dalam jaringan ISSN yang mendaftar sumber daya berlanjut.
  • Untuk setiap sumber daya berlanjut dalam media tertentu sebagaimana ditentukan dalam ISSN Manual hanya diberikan satu ISSN.
  • Setiap ISSN terkait selamanya dengan judul kunci yang ditetapkan oleh jaringan ISSN pada saat pendaftaran.
  • Bila suatu sumber daya berlanjut diterbitkan dalam media yang berbeda dengan judul yang sama atau berbeda, ISSN dan judul kunci yang berlainan harus diberikan untuk setiap edisi.
  • Bila sumber daya berlanjut mengalami perubahan berarti dalam judul atau perubahan besar lain seperti yang disebut dalam ISSN Manual, ISSN baru harus diberikan dan judul kunci baru harus dibuat.
  • ISSN yang telah diberikan untuk sumber daya berlanjut tidak dapat diubah, diganti atau digunakan lagi untuk terbitan lain.
  • Judul kunci ditetapkan atau disahkan oleh pusat ISSN yang bertanggung jawab atas pendaftaran sumber daya berlanjut, sesuai dengan peraturan yang terdapat dalam ISSN Manual.
  • Pemberian ISSN kepada sumber daya berlanjut tidak dapat diartikan atau dianggap sebagai bukti hokum kepemilikan hak cipta atas suatu terbitan atau isinya

3.12 AWS (American Welding Societ)

AWS

American Welding Society didirikan pada tahun 1919 untuk memfasilitasi pertumbuhan teknologi pengelasan listrik yang dikembangkan baru-baru ini sebagai alternatif bagi metode-metode penyambungan logam lainnya.
Kini, AWS telah memiliki sekitar 70.000 anggota di seluruh dunia, dengan Section lokal di setiap benua. AWS memiliki kantor pusat di area Miami untuk kemudahan akses ke seluruh dunia.
Standar dan sertifikasi AWS telah diakui dan digunakan di hampir semua negara. Negara-negara yang fokus pada pengembangan infrastruktur dan perdagangan dunia menggunakan standar dan sertifikasi AWS karena kesuksesannya yang sudah terbukti dalam mendukung pertumbuhan, keselamatan, dan kualitas perekonomian.
Untuk konstruksi dan infrastruktur, kode struktural AWS seperti D.1.1 menawarkan kesimbangan yang sudah teruji antara efisiensi dan kualitas. Lebih dari 200 standar AWS lainnya menyediakan kriteria yang ringkas dan menyeluruh mengenai produksi dan evaluasi seluruh jenis produk dan bahan hasil pengelasan, yang menggunakan hampir semua proses pengelasan.
Pendekatan AWS terhadap pemberi sertifikasi pengelasan dan para profesional lainnya juga dikenal sebagai pendekatan terbaik untuk memastikan kualitas sembari tetap menjaga produktivitas yang tinggi.
  1. STANDAR MANAJEMEN MUTU

Sistem manajemen mutu adalah sistem yang digunakan untuk menetapkan Kebijakan (pernyataan resmi oleh manajemen puncak berkaitan dengan perhatian dan arah organisasinya di bidang mutu) dan sasaran mutu (segala sesuatu yang terkait dengan mutu dan dijadikan sasaranatau target pencapaian dengan menetapkan ukuran atau kriteria pencapainnya).ISO 9000 merupakan standar mutu yang sangat populer di seluruh dunia. ISO 9000 adalahsuatu standar internasional untuk sistem manajemen mutu. Standar tersebut menetapkan persyaratan-persyaratan dan rekomendasi yang mendasar bagi organisasi apapun yang berminatuntuk menerapkan standar ini.Berdasarkan definisi tersebut, maka sistem manajemen mutu ISO 9000 dapat didefinisikansebagai standar sistem manajemen mutu yang mengelola proses pencapaian mutu. Sistemtersebut mengatur hubungan antara supplier, lembaga, dan konsumen. Oleh karena itu, sistemmanajemen mutu ISO 9000 sama sekali tidak berbicara tentang mutu suatu produk, tetapi berbicara tentang proses pencapaian suatu tingkat mutu tertentu. Hal ini mengisyaratkan bahwalembaga yang akan mengadopsi sistem tersebut perlu menetapkan spesifikasi/persyaratankarakteristik mutu produk dan prosesnya.
Proses perkembangan menuju era mutu merupakan proses yang cukup panjang dengan melewati berbagai pengalaman dan pendekatan metode yang bermacam-macam. Perkembangan mutu yang terjadi tidak lepas dari awal perubahan era menuju era industri dimana mulai dipergunakannya mesin-mesin untuk membantu proses produksi. Secara garis besar perkembangan atau evalusi mutu adalah sebagai berikut:

– era tanpa mutu
– era inpeksi
– era pengendalian mutu
– era jaminan mutu
– era manajemen mutu terpadu
– era Sistem Manajemen Mutu (ISO)

  1. ISO 9000

ISO ( International Organization for Standardization) adalah organisasi standar internasional yang didirikan     pada        tahun 1947 , berkedudukan di Janewa Swiss. Saat ini ISO beranggotakan 170 negara termasuk Indonesia. ISO 9000 itu adalah salah satu dari seri Standar Internasional untuk sistem Manajemen Mutu (SMM). Seri standar ISO 9000 digunakan untuk memperagakan kemampuan organisasi untuk taat asasdalam memberikan produk yang memenuhi permintaan pelanggan dan peraturan yang berlaku. Tujuannya untuk meningkatkan kepuasan pelanggan melalui penerapan sistem manajemen mutu secara efektif, termasuk proses perbaikan yang berkelanjutan (continuous improvement).  ISO 9001:2000 merupakan persyaratan standar sistem manajemen mutu (quality management system) versi tahun 2000 yang merupakan edisi kedua (ISO 9001:1994, ISO 9002:1994 dan ISO 9003:1994). Sedangkan edisi pertamanya dikeluarkan pada tahun 1987.

Penerapan sistem manajemen mutu ISO 9001:2000 pada dasarnya dibagi menjadi empat tahap yaitu :

  1. Tahap persiapan

Pada tahap ini dilakukan langkah-langkah persiapan seperti; analisis dan pengkajian terhadap kondisi lembaga  secara    mendalam, membentuk steering committee, tim penyusun dokumen dan yang terpenting adalah membangun komitmen untuk menerapkan sistem manajemen mutu ISO 9001:2000.

  1. Tahap Penyusunan dan Pengesahan Dokumen

Pada tahap ini dilakukan penulisan dan pengesahan dokumen antara lain: kebijakan mutu, sasaran mutu, pedoman mutu, prosedur operasi standar, instruksi kerja, dan formulir.

  1. Tahap implementasi

Tahap ini merupakan tahap implementasi atau penerapan sistem manajemen mutu yaitu dengan melaksankan semua ketentuan yang telahditulis di dalam dokumen. Pada tahap ini selalu ada kemungkinan untuk merevisi dokumen, bila dalam penerapannya ditemukan kesalahan atau kesulitan. Tahap ini dianggap mencukupi bila telah dijalani sekurang-kurangnya 3 bulan dan telah menghasilkan rekaman sebagai bukti pelaksanaan.

  1. Tahap registrasi

Tahap registrasi dilakukan bila lembaga telah meyakini bahwa dokumen sistem mutu telah tersusun dan diterapkan sesuai persyaratan standar ISO 9001:2000. untuk maksud tersebut lembaga dapat mengajukan pemohonan kepada sebuah badan sertifikat untuk dilaksanakan audit sertifikat guna memperoleh sertifikat ISO 9001:2000.

  1. Sistem Manajeman TQM

Konsep Total Quality Management (TQM) dikembangkan pertama kali pada tahun 1950-an (setelah berakhirnya Perang Dunia II) oleh seorang ilmuwan AS bernama Dr. W. Edwards Deming, dalam rangka memperbaiki mutu dari produk dan pelayanan yang dihasilkan oleh industri-industri di Amerika Serikat. Dr. Deming adalah salah seorang ahli statistik terkenal di AS, pada saat itu konsep ini tidak begitu diperhatikan secara serius oleh bangsa Amerika sampai akhirnya Dr. Deming ditugaskan ke Jepang bersama sejumlah tenaga ahli AS lainnya. Para ahli tersebut dikirim oleh pemerintah AS dalam rangka membawa pengaruh barat ke Jepang. Di Jepang ia kemudian mengadakan diskusi-diskusi dan seminar-seminar tentang prinsip-prinsip efisiensi industri, dimana diskusi ini diikuti secara serius oleh 45 orang CEO dari perusahaan-perusahaan di Jepang. Dalam diskusi tersebut Dr. Deming mengemukakan 4 hal penting:

  1. Sebuah organisasi bisnis harus mengetahui dan tanggap terhadap kebutuhan pelanggannya. Tanpa pelanggan, berarti tidak akan ada pesanan, dan tanpa pesanan berarti tidak akan ada pekerjaan.
  2. Pentingnya melakukan survei terhadap kebutuhan-kebutuhan dan harapan pelanggan.
  3. Pengelolaan Sumber Daya Manusia.
  4. Menciptakan keinginan untuk melakukan perbaikan secara terus menerus.
  1. Sistem Manajemen K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja)

Pengertian (Definisi) Sistem Manajemen K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) menurut Permenaker No 5 Tahun 1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja ialah bagian dari sistem secara keseluruhan yang meliputi struktur organisasi, perencanaan, tanggung-jawab, pelaksanaan, prosedur, proses dan sumber daya yang dibutuhkan bagi pengembangan, penerapan, pencapaian, pengajian dan pemeliharaan kebijakan Keselamatan dan Kesehatan Kerja dalam rangkapengendalian resiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisien dan produktif.

Sedangkan Pengertian (Definisi) Sistem Manajemen K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) menurut standar OHSAS 18001:2007 ialah bagian dari sebuah sistem manajemen organisasi (perusahaan) yang digunakan untuk mengembangkan dan menerapkan Kebijakan K3 dan mengelola resiko K3organisasi (perusahaan) tersebut.

Elemen-Elemen Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja bisa beragam tergantung dari sumber (standar) dan aturan yang kita gunakan. Secara umum, Standar Sistem Manajemen Keselamatan Kerja yang sering (umum) dijadikan rujukan ialah Standar OHSAS 18001:2007, ILO-OSH:2001 dan Permenaker No 5 Tahun 1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

  1. STANDAR MANAJEMEN LINGKUNGAN

Tahun 1996-1998, serangkaian seminar, lokakarya, penelitian dan proyek percontohan Sistem Manajemen Lingkungan telah diprakarsai oleh Kementerian Lingkungan Hidup, bekerjasama dengan BSN dan berbagai pihak. Dengan perannya sebagai fasilitator dalam pengembangan ISO 14000 di Indonesia, Kementerian Lingkungan Hidupmenyediakan media bagi semua pihak yang berkepentingan untuk aktif dalam program pengembangan standar ISO 14000, yaitu melalui Kelompok Kerja Nasional ISO 14000 (Pokjanas ISO 14000).

Kelompok kerja tersebut sampai saat ini masih aktif dalam melaksanakan diskusi-diskusi membahas penerapan standar ISO 14000. Sekretariat Pokjanas ISO 14000 tersebut difasilitasi oleh Kementerian Lingkungan Hidup. Asisten Deputi Urusan Standarisasi dan Teknologi. Untuk menfasilitasi penerapan standar ISO 14000 di Indonesia dan mempermudah penerapan dilapangan serta untuk menyamakan persepsi mengenai pelaksanaannya, maka Kementerian Lingkungan Hidup bekerjasama dengan BSN telah melakukan adopsi terhadap beberapa Standar Internasional ISO 14000 menjadi Standar Nasional Indonesia (SNI). Standar yang telah diadopsi tersebut diantaranya:

  1. Sistem Manajemen Lingkungan-Spesifikasi dengan Panduan Penggunaan (SNI 19-14001-1997)
  2. Sistem Manajemen Lingkungan-Pedoman Umum Prinsip Sistem dan Teknik Pendukung (SNI19-14004-1997)
  3. Pedoman Audit Lingkungan-Prinsip Umum (SNI 19-1410-1997)
  4. Pedoman Untuk Pengauditan Lingkungan – Prosedur Audit – Pengauditan Sistem Manajemen Lingkungan (SNI 19-14011-1997)
  5. Pedoman Audit untuk Lingkungan – Kriteria Kualifikasi untuk Auditor Lingkungan (SNI 19-14012-1997)
  1. ISO 14000

ISO atau International Organization For Standartization yang berkedudukan di Jenewa Swiss adalah badan federasi internasional dari badan-badan standarisasi yang ada di 90 negara. Persetujuan internasional yang telah disepakati bersama merupakan hasil utama dari badan internasional ini. ISO (International Standarisation Organisation) adalah organisasi non-pemerintah dan bukan merupakan bagian dari PBB atau WTO (World Trade Organization) walaupun Standar-standar yang dihasilkan merupakan rujukan bagi kedua organisasi tersebut. Anggota ISO, terdiri dari 110 negara, tidak terdiri dari delegasi pemerintah tetapi tersusun dari institusi standarisasi nasional sebanyak satu wakil organisasi untuk setiap negara.

ISO 14000 adalah standar sistem pengelolaan lingkungan yang dapat diterapkan pada bisnis apa pun, terlepas dari ukuran, lokasi atau pendapatan. Tujuan dari standar adalah untuk mengurangi kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh bisnis dan untuk mengurangi polusi dan limbah yang dihasilkan oleh bisnis. Versi terbaru ISO 14000 dirilis pada tahun 2004 oleh Organisasi Internasional untuk Standarisasi (ISO) yang memiliki komite perwakilan dari seluruh dunia. ISO-14000 memiliki beberapa seri, yaitu :

  1. ISO 14001                       : Sistem Manajemen Lingkungan
  2. ISO 14010 – 14015         : Audit Lingkungan
  3. ISO 14020 – 14024         : Label Lingkungan
  4. ISO 14031                       : Evaluasi Kinerja Lingkungan
  5. ISO 14040 – 14044         : Assessment/Analisa Berkelanjutan
  6. ISO 14060                       : Aspek Lingkungan dari Produk

Tujuan utama dari serangkaian norma-norma ISO 14000 adalah untuk mempromosikan pengelolaan lingkungan yang lebih efektif dan efisien dalam organisasi dan untuk menyediakan tools yang berguna dan bermanfaat – misalnya penggunaan biaya yang efektif, system-based, fleksibel dan sehingga mencerminkan organisasi yang baik. ISO 14000 menawarkan guidance untuk memperkenalkan dan mengadopsi sistem manajemen lingkungan berdasar pada praktek-praktek terbaik, hampir sama di ISO 9000 pada sistem manajemen mutu yang sekarang diterapkan secara luas. ISO 14000 ada untuk membantu organisasi meminimalkan bagaimana operasi mereka berdampak negatif pada lingkungan. Struktur ini mirip dengan ISO 9000 manajemen mutu dan keduanya dapat diimplementasikan berdampingan. Agar suatu organisasi dapat dianugerahi sertifikat ISO 14001 mereka harus diaudit secara eksternal oleh badan audit yang telah terakreditasi. Badan sertifikasi harus diakreditasi oleh ANSI-ASQ, Badan Akreditasi Nasional di Amerika Serikat, atau Badan Akreditasi Nasional di Irlandia.

PENGERTIAN ETIKA PROFESI DAN PROFESIONALISME di BIDANG TEKNIK MESIN

  • Pengertian Etika

Pengertian Etika (Etimologi), berasal dari bahasa Yunani adalah “Ethos”, yang berarti watak kesusilaan atau adat kebiasaan (custom). Etika berkaitan erat dengan perkataan moral yang berarti juga dengan adat kebiasaan atau cara hidup seseorang dengan melakukan perbuatan yang baik (kesusilaan), dan menghindari hal-hal tindakan yang buruk. Etika dan moral memiliki pengertian yang hampir sama, namun dalam kegiatan sehari-hari terdapat perbedaan, yaitu moral atau moralitas untuk penilaian perbuatan yang dilakukan, sedangkan etika adalah untuk pengkajian sistem nilai-nilai yang berlaku.

  • Pengertian Profesi

Profesi merupakan suatu jabatan atau pekerjaan yang menuntut keahlian atau keterampilan dari pelakunya. Biasanya sebutan “profesi” selalu dikaitkan dengan pekerjaan atau jabatan yang dipegang oleh seseorang, akan tetapi tidak semua pekerjaan atau jabatan dapat disebut profesi karena profesi menuntut keahlian para pemangkunya. Hal ini mengandung arti bahwa suatu pekerjaan atau jabatan yang disebut profesi tidak dapat dipegang oleh sembarang orang, akan tetapi memerlukan suatu persiapan melalui pendidikan dan pelatihan yang dikembangkan khusus untuk profesi itu.

Pekerjaan tidak sama dengan profesi. Istilah yang mudah dimengerti oleh masyarakat awam adalah sebuah profesi sudah pasti menjadi sebuah pekerjaan, namun sebuah pekerjaan belum tentu menjadi sebuah profesi. Profesi memiliki mekanisme serta aturan yang harus dipenuhi sebagai suatu ketentuan, sedangkan kebalikannya, pekerjaan tidak memiliki aturan yang rumit seperti itu. Hal inilah yang harus diluruskan di masyarakat, karena hampir semua orang menganggap bahwa pekerjaan dan profesi adalah sama.

PENGERTIAN ETIKA PROFESI

Menurut Kaiser dalam  ( Suhrawardi Lubis, 1994:6-7 )   

Etika profesi merupakan sikap hidup berupa keadilan untuk memberikan pelayanan professional terhadap masyarakat dengan penuh ketertiban dan keahlian sebagai pelayanan dalam rangka melaksanakan tugas berupa kewajiban terhadap masyarakat.

Menurut (Anang Usman, SH., MSi.)

Etika profesi adalah sebagai sikap hidup untuk memenuhi kebutuhan pelayanan profesional dari klien dengan keterlibatan dan keahlian sebagai pelayanan dalam rangka kewajiban masyarakat sebagai keseluruhan terhadap para anggota masyarakat yang membutuhkannya dengan disertai refleksi yang seksama,

Definisi Etika Profesi

Etika profesi adalah sikap etis sebagai bagian integral dari sikap hidup dalam menjalankan kehidupan sebagai pengemban profesi serta mempelajari penerapan prinsip-prinsip moral dasar atau norma-norma etis umum pada bidang-bidang khusus (profesi) kehidupan manusia. Etika profesi Berkaitan dengan bidang pekerjaan yang telah dilakukan seseorang sehingga sangatlah perlu untuk menjaga profesi dikalangan masyarakat atau terhadap konsumen (klien atau objek). Etika profesi memiliki konsep etika yang ditetapkan atau disepakati pada tatanan profesi atau lingkup kerja tertentu, contoh : pers dan jurnalistik, engineering (rekayasa), science, medis/dokter, dan sebagainya.

Prinsip dasar di dalam etika profesi :

  1. Tanggung jawab
  • Terhadap pelaksanaan pekerjaan itu dan terhadap hasilnya.
  • Terhadap dampak dari profesi itu untuk kehidupan orang lain atau masyarakat pada umumnya.
  1. Keadilan
  2. Prinsip ini menuntut kita untuk memberikan kepada siapa saja apa yang menjadi haknya.
  3. Prinsip Kompetensi,melaksanakan pekerjaan sesuai jasa profesionalnya, kompetensi dan ketekunan
  4. Prinsip Prilaku Profesional, berprilaku konsisten dengan reputasi profesi
  5. Prinsip Kerahasiaan, menghormati kerahasiaan informasi

Kode Etik Profesi

Kode etik profesi adalah sistem norma, nilai dan aturan professsional tertulis yang secara tegas menyatakan apa yang benar dan baik, dan apa yang tidak benar dan tidak baik bagi professional. Kode etik menyatakan perbuatan apa yang benar atau salah, perbuatan apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dihindari. Tujuan kode etik yaitu agar professional memberikan  jasa sebaik-baiknya kepada pemakai atau nasabahnya. Dengan adanya kode etik akan melindungi perbuatan yang tidak professional.

Fungsi Kode Etik Profesi :
Sumaryono (1995) mengemukakan 3 alasannya yaitu :

  1. Sebagai sarana kontrol sosial
    Sebagai pencegah campur tangan pihak lain
    3. Sebagai pencegah kesalahpahaman dan konflik

Kelemahan Kode Etik Profesi :

  1. Idealisme terkandung dalam kode etik profesi tidak sejalan dengan fakta yang terjadi di sekitar para profesional, sehingga harapan sangat jauh dari kenyataan. Hal ini cukup menggelitik para profesional untuk berpaling kepada nenyataan dan menabaikan idealisme kode etik profesi. Kode etik profesi tidak lebih dari pajangan tulisan berbingkai.
  2. Kode etik profesi merupakan himpunan norma moral yang tidak dilengkapi dengan sanksi keras karena keberlakuannya semata-mata berdasarkan kesadaran profesional. Rupanya kekurangan ini memberi peluang kepada profesional yang lemah iman untuk berbuat menyimpang dari kode etik profesinya.

Peran Etika dalam Perkembangan IPTEK

Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi berlangsung sangat cepat. Dengan perkembangan tersebut diharapkan akan dapat mempertahankan dan meningkatkan taraf hidup manusia untuk menjadi manusi secara utuh. Maka tidak cukup dengan mengandalkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, manusia juga harus menghayati secara mendalam kode etik ilmu, teknologi dan kehidupan.

Para pakar ilmu kognitif telah menemukan bahwa teknologi mengambil alih fungsi mental manusia, pada saat yang sama terjadi kerugian yang diakibatkan oleh hilangnya fungsi tersebut dari kerja mental manusia. Perubahan yang terjadi pada cara berfikir manusia sebagai akibat perkembangan teknologi sedikit banyak berpengaruh terhadap pelaksanaan dan cara pandang manusia terhadap etika dan norma dalam kehidupannya.

Etika profesi merupakan bagian dari etika sosial yang menyangkut bagaimana mereka harus menjalankan profesinya secara profesional agar diterima oleh masyarakat. Dengan etika profesi diharapkan kaum profesional dapat bekerja sebaik mungkin, serta dapat mempertanggungjawabkan tugas yang dilakukan dari segi tuntutan pekerjaannya.

Pengertian Profesionalisme                

Profesionalisme merupakan komitmen para anggota suatu profesi untuk meningkatkan kemampuannya secara terus menerus. “Profesionalisme” adalah sebutan yang mengacu kepada sikap mental dalam bentuk komitmen dari para anggota suatu profesi untuk senantiasa mewujudkan dan meningkatkan kualitas profesionalnya. Alam bekerja, setiap manusia dituntut untuk bisa memiliki profesionalisme karena di dalam profesionalisme tersebut terkandung kepiawaian atau keahlian dalam mengoptimalkan ilmu pengetahuan, skill, waktu, tenaga, sember daya, serta sebuah strategi pencapaian yang bisa memuaskan semua bagian/elemen. Profesionalisme juga bisa merupakan perpaduan antara kompetensi dan karakter yang menunjukkan adanya tanggung jawab moral.

Etika Profesi di Bidang Teknik Mesin

Etika dalam bidang Teknik Mesin yaitu merupakan suatu prinsip-prinsip atau aturan prilaku di dalam bidang Teknik Mesin yang bertujuan untuk mencapai nilai dan norma moral yang terkandung di dalamnya. Sedangkan Profesi dalam bidang teknik Mesin dapat diartikan sebagai pekerjaan , namun tidak semua pekerjaan adalah profesi. Sebuah profesi akan dapat dipercaya dunia industri ketika  kesadaran diri kita yang kuat menjunjung tinggi nilai etika profesi kita di dunia industri maupun di sekitar kita. Jadi dapat di katakan  etika profesi yaitu batasan-batasan untuk mengatur atau membimbing prilaku kita sebagai manusia secara normatif. Kita harus mengetahui apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Karena semuanya itu sangat berpengaruh bagi kita sebagai mahasiswa teknik mesin yang seharusnya mempunyai etika yang bermoral baik.

Sebagai insinyur untuk membantu pelaksana sebagai seseorang yang professional dibidang keteknikan supaya tidak dapat merusak etika profesi diperlukan sarana untuk mengatur profesi sebagai seorang professional dibidangnya berupa kode etik profesi. Ada tiga hal pokok yang merupakan fungsi dari kode etik profesi tersebut. Kode etik profesi memberikan pedoman bagi setiap anggota profesi tentang prinsip profesionalitas yang digariskan. Maksudnya bahwa dengan kode etik profesi, pelaksana profesi mampu mengetahui suatu hal yang boleh dia lakukan dan yang tidak boleh dilakukan.

Kode etik profesi merupakan sarana kontrol sosial bagi masyarakat atas profesi yang bersangkutan. Maksudnya bahwa etika profesi dapat memberikan suatu pengetahuan kepada masyarakat agar juga dapat memahami arti pentingnya suatu profesi, sehingga memungkinkan pengontrolan terhadap para pelaksana di lapangan kerja (kalanggan sosial).

Kode etik profesi mencegah campur tangan pihak diluar organisasi profesi tentang hubungan etika dalam keanggotaan profesi. Arti tersebut dapat dijelaskan bahwa para pelaksana profesi pada suatu instansi atau perusahaan yang lain tidak boleh mencampuri pelaksanaan profesi di lain instansi atau perusahaan.

Di Indonesia dalam hal kode etik telah diatur termasuk kode etik sebagai seorang insinyur yang disebut kode etik insinyur Indonesia dalam “catur karsa sapta dharma insinyur Indonesia. Dalam kode etik insinyur terdapat prinsip-prinsip dasar yaitu :

  • Mengutamakan keluhuran budi.
  • Menggunakan pengetahuan dan kemampuannya untuk kepentingan kesejahteraan umat manusia.
  • Bekerja secara sungguh-sungguh untuk kepentingan masyarakat, sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya.
  • Meningkatkan kompetensi dan martabat berdasarkan keahlian profesional keinsinyuran.

Accreditation Board for Engineering and Technology (ABET) sendiri secara spesifik memberikan persyaratan akreditasi yang menyatakan bahwa setiap mahasiswa teknik (engineering) harus mengerti betul karakteristik etika profesi keinsinyuran dan penerapannya. Dengan persyaratan ini, ABET menghendaki setiap mahasiswa teknik harus betul-betul memahami etika profesi, kode etik profesi dan permasalahan yang timbul diseputar profesi yang akan mereka tekuni nantinya, sebelum mereka nantinya terlanjur melakukan kesalahan ataupun melanggar etika profesi-nya. Langkah ini akan menempatkan etika profesi sebagai “preventive ethics” yang akan menghindarkan segala macam tindakan yang memiliki resiko dan konsekuensi yang serius dari penerapan keahlian profesional.

Sumber :

http://www.pendidikanku.net/2015/07/pengertian-etika-pengertian-profesi-pengertian-etika-profesi-pengertian-profesionalisme.html

http://www.pendidikanku.net/2015/07/pengertian-etika-pengertian-profesi-pengertian-etika-profesi-pengertian-profesionalisme.html

KELISTRIKAN DAN KESELAMATAN LIFT

Desain Elevator ini menggunakan motor listrik, tali, dan counterweight bukan peralatan hidrolik. Rel panduan utama sudah terpasang pada setiap sisi kotak penumpang (box)  dan sepasang tambahan rel penyeimbang terletak pada satu sisi atau di belakang. Mesin diarahkan, bersama dengan peralatan drive terkait, umumnya terletak di atas hoistway di ruang mesin penthouse. Dalam beberapa situasi terbatas, dapat terletak di sebelah hoistway pada pendaratan lebih rendah. Pengaturan yang terakhir ini disebut sebagai traksi basement. Motor digerakan  oleh listrik AC atau DC.

Gambar : Lift

Mesin roda gigi cacing untuk mengontrol gerakan mekanik kabin lift dengan “rolling” baja hoist tali melalui puli katrol penggerak yang melekat ke gearbox digerakkan oleh motor kecepatan tinggi. Mesin ini umumnya pilihan terbaik untuk bangunan tinggi yang menyediakan  ruang bawah tanah dan penggunaan traksi overhead untuk kecepatan hingga 500 ft / menit (2,5 m / s)memungkinkan kontrol kecepatan yang akurat dari motor, untuk kenyamanan penumpang, sebuah kerekan DC motor didukung oleh AC / DC motor-generator (MG) adalah seperangkat solusi yang diinginkan dalam lalu lintas tinggi instalasi lift selama beberapa dekade . MG set juga biasanya didukung pengontrol relay dari lift, yang memiliki keuntungan tambahan elektrik mengisolasi lift dari seluruh sistem listrik sebuah bangunan, sehingga menghilangkan lonjakan daya sementara dalam pasokan listrik bangunan yang disebabkan oleh motor start  dan stop (menyebabkan redup pencahayaan setiap kali lift digunakan misalnya), serta gangguan pada peralatan listrik lain yang disebabkan oleh lengkung dari kontaktor relay di sistem kontrol.

HARDWIRED CIRCUITS

Pada perancangan perangkat keras lift terdapat banyak komponen elektronika untuk dapat membangun sebuah sistem lift. Komponen – komponen yang dibutuhkan dalam membangun sistem lift ini dibutuhkan beberapa jenis sensor dan komponen – komponen elektronika lainnya. Berikut komponen yang digunakan pada sistem liftserta rangkaian elektronika untuk mengkontrol perangkat keras antara lain :

  • Kontrol Tombol
  • Kontrol Driver Motor DC dan Motor DC Gear
  • Kontrol Penstabil Tegangan (Regulator)
  • Power On Reset
  • Kontrol Alarm
  • Sensor Limit Switch

BRAKE CONTROL

Lift menggabungkan beberapa fitur keamanan untuk mencegah kabin  menabrak bagian bawah shaft. Pengaman diinstal pada kabin bisa mencegah jenis kecelakaan yg terjadi ketika rem motor gagal atau tali kawat cangkang tiba2 putus Namun, desain yang melekat pada pengaman kabin dibuat untuk tidak berlaku ke arah atas.

Dalam arah ke atas, rem motor diperlukan untuk menghentikan kabin ketika kondisi darurat terjadi. Dalam operasi normal, rem motor hanya berfungsi sebagai rem parkir untuk menahan kabin saat berhenti. Namun, ketika kondisi darurat terdeteksi, desain kontrol lift sistem moderen hanya mengandalkan rem motor  untuk menghentikan kabin.

Electrical Braking (Rem pada Motor Electric)

  • DC injection braking.
  • Plugging.
  • Eddy current braking.
  • Dynamic resistor braking.
  • Regenerative braking.

GOVERNOR ROPE MONITOR

Tali governor  pada lift disediakan dengan rem tambahan yang merupakan rem fail safe dan yang beroperasi untuk menghentikan gerakan tali governor ketika mobil lift bergerak dari pendaratan dengan pintu terbuka. Rem ini mencakup dua rahang gripper tali di ruang mesin di bawah sheave governor, yang rahang diadakan jauh dari tali governor oleh solenoid selama listrik tersedia untuk memberi energi solenoida. Bila catu daya ke solenoida terganggu, rahang yang dirilis jatuh oleh gravitasi terhadap satu sama lain untuk pegangan tali governor. Rem mobil darurat dengan demikian tersandung dan pergerakan mobil berhenti. Rem juga dapat diberikan untuk mengendalikan tali penyeimbang governor.

BACK OUT OF OVER TRAVEL SWITCH

Overtravel (posisi di luar jarak pengoperasian)  aktif aktuasi kadang-kadang terjadi pada lift tambang. Banyak faktor  dapat menyebabkan hal ini terjadi seperti perubahan suhu, overloading dari alat angkut, peregangan tali, atau berhenti darurat. Limit switches, peralatan ini dipasang pada lantai paling bawah dan paling atas. Peralatan ini untuk mencegah terjadinya over travel lift baik saat lift naik maupun saat lift turun.

Peralatan pengaman utama pada lift antara lain :

  1. Sebuah alat pengindra dan pembatas kecepatan (governor) yang mengatur bekerjanya alat pengaman kereta (car safety device) apabila kecepatan kereta melampaui batas yang ditentukan dilengkapi dengan pemutus control listrik.
  2. Sakelar pelamban (slow down switch) dan sakelar batas lintas (limit switch) yang keduanya berfungsi sebagai pengaman batas perjalanan kereta baik di ujung atas maupun di ujung bawah yang bertugas untuk menghentikan kereta apabila sampai pada batas perjalanan terakhir ke atas atau ke bawah.
  3. Rem mesin yang bekerja secara otomatis apabila sumber tenaga listrik tiba-tiba terputus.
  4. Kunci kait (interlock) pada semua pintu ruang luncur dan kontak listrik pengaman pada pintu kereta, keduanya untuk mengatur secara otomatis, agar pintu ruang luncur dan pintu kereta hanya dapat terbuka apabila kereta berada pada batas tertentu dari permukaan lantai perhentian (lihat 2.4.4).
  5. Penyangga dan peredam (buffer) terpasang pada lekuk dasar ruang luncur untuk meredam gaya tumbukan kereta dan/atau bobot imbang yang mungkin jatuh bebas, yaitu ada 2 macam : Penyangga pegas atau penyangga masip kenyal dan Penyangga hidrolik atau peredam.
  6. Tombol sakelar darurat (emergency stop switch) di dalam kereta yang berbentuk gagang atau tombol berwarna merah.
  7. Peralatan pengaman dan peralatan pendukung lainnya yang disesuaikan dengan standar pabrik pembuat dan tidak bertentangan dengan peraturan-peraturan yang berlaku.

Cara Bekerja Pesawat Pengaman

Cara bekerja pesawat pengaman kereta terpisah dari cara bekerja motor penggerak lif. Peralatan pengaman kereta ini terdiri dari :

  1. Governor sebagai pengindra dan pembatas kelajuan lif.
  2. Dasar pengaman kereta (safety block), yang berada langsung dibagian bawah rangka kereta di kiri dan kanan (pada produk tertentu dipasang pada bagian atas rangka).
  3. Tali baja governor.
  4. Roda teromol sebagai pengatur tegangan tali baja governor yang berada di lekuk dasar (pit). Lif berkecepatan tinggi (120 m/m keatas) pengaturan tegangan dengan pegas dan peredam hidrolis yang dipasang pada rangka teromol.

Tali baja governor, bergerak diantara roda penegang (tension sheave) dan roda governor dan kedua ujung dari kabel baja tersebut diikatkan pada tangan (stang) penggerak rem pada rangka kereta, sehingga pasak atau rem kiri dan kanan bekerja sekaligus serempak. Dalam keadaan normal, pesawat pengaman tidak mempengaruhi jalannya lif, kecuali jika kecepatan lif melampaui batas kecepatan tertentu, dengan prosentase sesuai daftar tersebut diatas.

Sistim pengaman ini bekerja dengn dua tahap sebagai berikut :

  1. Pada tahap pertama, apabila awal mula terjadi kecepatan lebih (lihat daftar) lif dalam keadaan turun, maka governor akan membuka sakelar OS pemutus arus listrik ke motor penggerak lif, dan memberhentikan lif.
  2. Apabila OS tidak sempat bekerja dan kereta tetp melaju dengan kecepatan terus meningkat, maka governor akan tersentak menyebabkan rahang governor menggigit tli baja, selanjutnya menyebabkan tangan-tangan menarik rem masuk ke dalam rumah (blok) sert menjepit rel pengantar. Lif akan berhenti pada jarak lintas tertentu. Berhentinya dibantu oleh pegas yang ada pada blok rem/pasak. Lihat daftar jarak lintas perhentian merosot. Bersamaan dengan peristiwa tersebut saklar SOS terbuka, sehingga arus ke motor terputus.

Rekomendasi tentang Lif (Europen Elevator Association).

  1. Semua lif harus dipelihara. Pemeliharaan harus oleh orang-orang yang kompeten dari perusahaan yang memenuhi syarat dan bekerja sesuai aturan-aturan EEA.
  2. Pemilik/ manajemen dapat menerima kebutuhan akan (perlunya) lif harus di upgrade. Yaitu bagi peralatan yang berumur lebih dari 15 tahun dan selanjutnya tiap-tiap 5 tahun setelah melalui pemeriksaan. Hal ini agar memenuhi persyaratan-persyaratan keselamatan yang berlaku akhir-akhir ini (up to date).
  3. Panggilan darurat harus segera dilayani. Seseorang dalam organisasi building management harus siap 24 jam untuk menolong orang yang terperangkap dalam lif. Alat komunikasi dengan orang tersebut harus berfungsi.
  4. Peralatan cacat atau rusak harus segera dilaporkan. Seorang petugas dari pihak manajemen harus segera melaporkan kepada perusahaan pemelihara.
  5. Perusahaan pemelihara harus membuktikan kecakapannya, dapat dipercaya dan berpengalaman. Perusahaan harus terdaftar dan menutup asuransi untuk kepentingan umum (kecelakaan dan kerusakan harta benda).
  6. Perusahaan pemeliharaan harus jelas. Nama dan alamat, nomor telepon sebaiknya terpampang di dalam lif. Hal ini memudahkan komunikasi jika ada masalah dengan peralatan demi keselamatan.
  7. Perusahaan pemeliharaan harus peduli dengan keselamatan. Perusahaan harus melaporkan kepada manajemen/pemilik pada waktunya atas unit lif untuk memenuhi persyaratan K3. Juga perusahaan peduli atas keselamatan pegawainya dengan kebijakan yang jelas.
  8. Perusahaan pemeliharaan harus dapat melayani call back sevice 24 jam sehari, 365 hari per tahun. Hal ini terutama untuk menolong penumpang yang terkurung/ terperangkap didalam kereta lif yang macet. Teknisi yang dikirim untuk menolong harus cakap dan sigap, sehingga tidak menunda waktu terlalu lama.
  9. Perusahaan pemeliharaan harus bermutu tinggi. Di Eropa perusahaan tersebut lulus ISO 9000/EN29000 (memiliki sertifikat) untuk sisitim/ procedure kerja.
  10. Perusahaan pemeliharaan harus memiliki pegawai yang cakap. Perusahaan menyediakan pelatihan dan senantiasa melaksanakan peningkatan keahliannya dan pengetahuannya mengenai pemeliharaan.
  11. Perusahaan pemeliharaan menyediakan pelayanan kebutuhan suku cadang.
  12. Perusahaan pemeliharaan harus mencatat dan menyimpan sejarah pemeliharaan, reparasi, modifikasi, dan lain-lain, atas tiap unit lift.

Sumber : http://www.pt-ltf.com/?REFERENSI%26nbsp%3B/-Pemeliharaan_Lift_%2F_Elevator

PENGAWASAN K3 PESAWAT UAP DAN BEJANA TEKAN

A. Latar Belakang Pengawasan K3 Pesawat Uap dan Bejana Tekan

Pesawat Uap atau juga disebut Ketel Uap adalah suatu pesawat yang dibuat untuk mengubah air didalamnya, sebagian menjadi uap dengan jalan pemanasan menggunakan pembakaran dari bahan bakar. Ketel uap dalam keadaan bekerja, adalah sebagai bejana yang tertutup dan tidak berhubungan dengan udara luar karena selama pemanasan, maka air akan mendidih selanjutnya berubah menjadi uap panas dan bertekanan, sehingga berpotensi terjadinya ledakan jika terjadi kelebihan tekanan (over pressure).
Bejana tekan adalah suatu wadah untuk menampung energi baik berupa cair atau gas yang bertekanan atau bejana tekan adalah selain pesawat uap yang mempunyai tekanan melebihi tekanan udara luar (atmosfer) dan mempunyai sumber bahaya antara lain; kebakaran, keracunan, gangguan pernafasan, peledakan, suhu ekstrem.
Objek pengawasan K3 Pesawat Uap dan Bejana Tekan dibagi dalam 4 (empat) kelompok, yaitu;
1. Pesawat Uap
– Ketel Uap
– Ketel Air Panas
– Ketel Vapour
– Pemanas Air
– Pengering Uap
– Penguap
– Bejana Uap
– Ketel Cairan Panas
2. Bejana Tekan
– Bejana Transport
– Bejana Penyimpan Gas
– Bejana Penimbun
– Pesawat/Instalasi Pendingin
– Botol Baja
– Pesawat Pembangkit Gas Asetilin
3. Instalasi Pipa
– Instalasi Pipa Gas
– Instalasi Pipa Uap
– Instalasi Pipa Air
– Instalasi Pipa Cairan
4. Operator Pesawat Uap, Juru Las dan Perusahaan Jasa Teknik

B. Dasar Hukum Pengawasan K3 Pesawat Uap dan Bejana Tekan
Yang menjadi dasar hokum pengawasan K3 Pesawat Uap dan Bejana Tekan, adalah;
1. Undang-Undang Uap Tahun 1930
2. Peraturan Uap Tahun 1930
3. Undang-Undang No.1 Tahun 1970, tentang Keselamatan Kerja.
4. Permen No. 01/Men/1982 tentang Bejana Tekan
5. Permen No.01/Men/1982 Tentang Klasifikasi Juru Las
6. Permen No.01/Men/1988 tentang Klasifikasi dan Syarat-syarat Operator Pesawat Uap.

C. Ruang Lingkup Pengawasan K3 Pesawat Uap dan Bejana Tekan
Meliputi kegiatan perencanaan, pembuatan, pemasangan atau perakitan, modifikasi atau reparasi dan pemeliharaan.
Lingkup pengawasan meliputi;
1. Pertimbangan-Pertimbangan Desain, mencakup prinsip-prinsip desain termasuk gambar konstruksi, data ukuran-ukuran, gambar teknik, pelaksanaan pembuatan dan pengujian
2. Spesifikasi Bahan, yaitu bahan yang digunakan harus memenuhi syarat sesuai ketentuan yang berlaku serta standard penggunaan bahan serta mempunyai sertifikat bahan.
3. Metode Konstruksi, yaitu pelaksanaan pekerjaan dapat dilakukan dengan metode pengelasan dan pengelingan.
4. Penempatan Ketel Uap,yaitu; bahwa ketel uap harus ditempatkan dalam suatu ruangan atau bangunan tersendiri yang terpisah dari ruangan kerja . Jarak ruangan operator ketel uap harus aman sesuai ketentuan.
Penggolongan Ketel Uap;
1. Menurut tempat penggunaannya;
– Ketel uap darat tetap
– Ketel uap darat berpindah
– Ketel uap kapal
2. Menurut bangunan letak sumbu silinder ketel
– Ketel uap tegak
– Ketel uap datar
3. Menurut tipe dan bentuk konstruksi serta aliran panas
– Ketel uap tangki
– Ketel uap pakai boiler
– Ketel uap dengan lorong api
Penggolongan bejana uap;
1. Menurut fungsinya
– Bejana uap
– Pengering uap
– Penguap
– Pemanas air
2. Menurut Operasinya
– Bejana tertutup, misal; Autoclaves, Digester, Distilling apparatus
– Bejana terbuka, misal; Open Steam Jacketed kettles, Open evaporating pans.
Perbedaan antara ketel uap dan bejana uap adalah pada fungsi dari pada operasinya, ketel uap adalah sebagai pengahil uap sedangkan bejana uap adalah penampung uap yang dihasilkan.
Perawatan Ketel Uap, adalah merupakan suatu usaha untuk mempertahankan kinerja ketel uap sesuai dengan peruntukkanya. Kita menyadari bahwa ketel uap dapat menimbulkan peledakan, korban manusia dan harta benda yang tidak kita inginkan. Usaha-usaha yang perlu dilakukan adalah;
1. Melakukan pembersihan sisi luar
2. Melakukan pembersihan sisi dalam
3. Pengolahan air pengisi ketel uap;
– Pengolahan diluar ketel
– Pengolahan didalam ketel
4. Reparasi Ketel Uap, yaitu melakukan penggantian spare part/bagian untuk mempertahankan kinerja ketel.
Sedangkan dalam hal pengoperasian pesawat uap, harus dilakukan pendidikan dan pelatihan terhadap operator dan pendidikan lainnya yang terkait.

D. Alat pengaman Pesawat Uap dan Bejana Tekan
Mencakup beberapa hal, yaitu;
1. Peralatan-peralatan Bantu Ketel Uap
a. Tingkap pengaman
b. Pedoman tekanan
c. Gelas pedoman air
d. Alat tanda bahaya
e. Kran penutup uap induk
f. Kran penutup air pengisi
g. Kran penguras
h. Pelat nama
2. Fungsi
a. Alat pengaman pesawat uap ialah setiap alat yang dipasang pada pesawat dan berfunsi agar pesawat dapat dipakai secara aman.
b. Tingkap pengaman berfungsi untuk melepaskan tekanan dan tingkap pengaman harus mudah digerakkan bibir-bibir pengantar klepnya dengan tangan, jenisnya yaitu antara lain;
– Tingkap pengaman dengan pegas
– Tingkap pengaman dengan beban
c. Pedoman tekanan (Manometer) adalah suatu alat pengukur tekanan dari suatu medium berbeda dalam satu ruangan.
d. Gelas pedoman air berfungsi untuk mengetahui tinggi kolom air yang ada dalam ketel uap.
e. Alat pengontrol otomatis berfungsi untuk mengetahui kondisi air dalam ketel uap
f. Tanda batas air terendah berfungsi untuk mengetahui ketinggian air dalam ketel
g. Kerangan atau katup berfungsi untuk memasukkan atau mengeluarkan air pada ketel uap
h. Lubang pemeriksaan berfungsi untuk akses pemeriksaan dalam ketel uap
i. Pelat nama dipasang pada ketel uap dan berisi, antara lain; identitas nama, pabrik pembuat, atau spesifikasi teknis lainnya.
Pada tingkap pengamanan, syarat-syarat yang harus dipenuhi adalah;
a. Pada saat bekerja dengan kecepatan maksimum saat tekanan tertinggi tekanan kerja, tidak akan meningkat lebih 10 % dari tekanan kerja yang diperbolehkan
b. Harus mudah digerakkan dan dicapai oleh tangan terkait dengan pengoperasinnya.
Secara umum, pada pesawat uap dan bejana tekan terdapat pedoman tekanan, yaitu;
a. Harus mempunyai harga tekana yang sesuai dengan tekanan kerja pesawatnya. Batas terendah tidak kurang dari ¼ tekanan kerja dan tidak lebih dari 2X tekana kerjanya
b. Harus mempunyai angka-angka yang jelas dan mudah dibaca dengan tanda maximum yang diperbolehkan.

E. Pemeriksaan dan Pengujian Pesawat Uap dan Bejana Tekan
1. Jenis pemeriksaan dan pengujian berdasarkan peraturan perundang-undangan.
2. Pemeriksaan dan pengujian dalam proses pembuatan
– Pemeriksaan dokumen teknik yang disyaratkan untuk pembuatan
– Pemeriksaan bahan baku/material yang akan digunakan untuk pembuatan unit atau komponen (pemeriksaan awal)
– Pemeriksaan pada saat dan atau pada akhir pekerjaan pembuatan unit atau komponen
– Pengujian
– Pembuatan data teknik pembuatan dan laporan pengawasan pembuatan unit atau komponen.
3. Pemeriksaan dan pengujian pertama
– Pemeriksaan dokumen teknik yang disyaratkan untuk pemasangan dana atau pemeriksaan
– Pemeriksaan unit atau komponen
– Pemeriksaan teknis menyeluruh saat perakitan dan akhir perakitan
– Pengujian-pengujian
– Pencatatan pada Buku Akte Ijin Pemakaian
4. Pemeriksaan dan pengujian berkala
– Pengecekan dokumen teknik terkait syarat pemakaian
– Pemeriksaan kondisi fisik serta perlengkapannya
– Pembuatan laporan pemeriksaan dan atau pengujian berkala atau pemeriksaan khusus
– Pencacatan pada buku Akte Ijin Pemakaian
5. Pemeriksaan khusus (modifikasi/reparasi)
a. Pemeriksaan kondisi fisik pesawat uap yang akan dilakukan reparasi/modifikasi
b. Pemeriksaan dokumen teknik terkait dengan syarat pekerjaan
c. Pemeriksaan pada saat dan akhir pekerjaan
d. Pengujian seperlunya
e. Pembuatan laporan pemeriksaan dan pengujian
f. Pencatatan pada buku akte
Selain itu terdapat pula pemeriksaan dan pengujian pada saat terjadi pekerjaan relokasi/rekondisi pesawat uap. Dan seluruh tahapan kegiatan pekerjaan yang terkait dengan pesawat uap harus mendapatkan ijin dan pengesahan dari pihak yang terkait, misal; ijin pemakaian (baru) dan Mutasi ijin pemakaian karena penjualan atau jenis pesawat uap berpindah.
Seluruh kegiatan terkait dengan pemeriksaan dan pengujian kemudian diatur dalam suatu prosedur standar mulai dari tahap awal hingga akhir, yaitu;
a. Prosedur pemeriksaan dan pengujian pada tahap pembuatan
b. Prosedur pemeriksaan dan pengujian pada tahap perakitan atau pemasangan
c. Prosedur pada tahapan pemakaian (pemeriksaan berkala atau khusus)
d. Prosedur pemeriksaan dan pengujian berkaitan dengan reparasi dan modifikasi
e. Prosedur pemeriksaan dan pengujian berkaitan dengan perakitan pemasangan karena pemindah pesawat uap
F. Prosedur penerbitan ijin pemakaian pesawat uap baik baru atau mutasi
Kegiatan pemeriksaan dan pengujian mencakup beberapa tahap, yaitu;
a. Pemeriksaan data
b. Pemeriksaan visual dengan menggunakan checklist terhadap seluruh komponen dan dimention check / ketebalan
c. Pemeriksaan tidak merusak terhadap sambungan las
d. Hydrostatis test dan steam test
1. Persyaratan Keselamatan Kerja dan Ketentuan Teknis Pelaksana Kegiatan Pemeriksaan dan Pengujian serta Penerbitan Ijin Pemakaian Pesawat Uap
a. Persyaratan keselamatan Kerja terkait dengan pesawat uap harus mematuhi perundang-undangan, yaitu; Undang-undang No.1 Tahun 1970, Undang-undang Uap 1930, Peraturan Uap 1930, Peraturan Menteri No.02/Men/1982/1982 dan peraturan-peraturan pelaksanaannya serta standar teknis pendukungnya.
b. Ketentuan-ketentuan tersebut, meliputi;
– Kualitas konstruksi, pemipaan, sarana penunjang
– Kualitas dan kuantitas alat perlengkapan/alat pengaman
– Kualifikasi perusahaan pembuat, perakit/pemasang, reparator, perawatan, dan operator pesawat uap
– Ketentuan pemeriksaan dan pengujian
– Ketentuan teknis pesawat uap yang tidak perlu ijin
– Ketentuan teknis yang berkaitan dokumen teknis pesawat uap, pemipaan, sarana penunjang dan dokumen teknik pemeriksaan dan perijinan
2. Persyaratan Keselamatan Kerja dan Ketentuan Teknis Pelaksana Kegiatan Pemeriksaan dan Pengujian serta Penerbitan Ijin Pemakaian Bejana Tekan
a. Persyaratan Keselamatan Kerja terkait dengan bejana tekan, harus mematuhi peraturan, yaitu; Undang-undang No.1 Tahun 1970, Peraturan Menteri No. Per.01/Menn/1982 dan peraturan-peraturan pelaksanaannya serta standar teknis pendukungnya.
b. Ketentuan-ketentuan yang dimaksud tersebut diatas, meliputi;
– Ketentuan tentang kualitas konstruksi bejana tekan, pemipaan dan sarana penunjangnya
– Ketentuan tentang kualitas dan kuantitas alat perlengkapan / alat pengaman
– Ketentuan tentang kualifikasi perusahaan pembuat, perakit, pemasang, reparator, perawatan dan operator bejana tekan
– Ketentuan teknis pemeriksaan dan pengujian
– Ketentuan teknis bejana tekan yang tidak perlu pengesahan pemakaian
– Ketentuan teknis yang berkaitan dokumen teknis bejana tekan, pemipaan, sarana penunjang dan dokumen teknik pemeriksaan dan pengesahan pemakaian.

G. Pengawasan K3 Pesawat Uap dan Bejana Tekan
Pesawat Uap atau juga disebut Ketel Uap adalah suatu pesawat yang dibuat untuk mengubah air didalamnya, sebagian menjadi uap dengan jalan pemanasan menggunakan pembakaran dari bahan bakar. Ketel uap dalam keadaan bekerja, adalah sebagai bejana yang tertutup dan tidak berhubungan dengan udara luar karena selama pemanasan, maka air akan mendidih selanjutnya berubah menjadi uap panas dan bertekanan, sehingga berpotensi terjadinya ledakan jika terjadi kelebihan tekanan (over pressure).
Bejana tekan adalah suatu wadah untuk menampung energi baik berupa cair atau gas yang bertekanan atau bejana tekan adalah selain pesawat uap yang mempunyai tekanan melebihi tekanan udara luar (atmosfer) dan mempunyai sumber bahaya antara lain; kebakaran, keracunan, gangguan pernafasan, peledakan, suhu ekstrem.
Objek pengawasan K3 Pesawat Uap dan Bejana Tekan dibagi dalam 4 (empat) kelompok, yaitu;
1. Pesawat Uap
– Ketel Uap
– Ketel Air Panas
– Ketel Vapour
– Pemanas Air
– Pengering Uap
– Penguap
– Bejana Uap
– Ketel Cairan Panas
2. Bejana Tekan
– Bejana Transport
– Bejana Penyimpan Gas
– Bejana Penimbun
– Pesawat/Instalasi Pendingin
– Botol Baja
– Pesawat Pembangkit Gas Asetilin
3. Instalasi Pipa
– Instalasi Pipa Gas
– Instalasi Pipa Uap
– Instalasi Pipa Air
– Instalasi Pipa Cairan
4. Operator Pesawat Uap, Juru Las dan Perusahaan Jasa Teknik

Sumber  : http://hseindonesia.info/2014/11/26/pengawasan-k3-pesawat-uap-dan-bejana-tekan/

Undang Undang Dasar Hukum K3

TUGAS 3

Undang-Undang Keselamatan Kerja : UU No.1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.
LATAR BELAKANG.

1.VEILIGHEIDS REGLEMENT 1910 (VR 1910, Stbl No. 406) sudah tidak sesuai lagi
2.Perlindungan tenaga kerja tidak hanya di industri/ pabrik
3.Perkembangan teknologi/IPTEK serta kondisi dan situasi ketenagakerjaan
4.Sifat refresif dan polisional pada VR. 1910 sudah tidak sesuai lagi
DASAR HUKUM:

Pasal 27 ayat (2) UUD 1945 : Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan
UU No.14 Tahun 1969 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Mengenai ketenagakerjaan

Pasal 3 : Tiap tenaga kerja berhak atas pekerjaan dan penghasilan yang layak bagi kemanusiaan
Pasal 9 : Tiap tenaga kerja berhak mendapat perlindungan atas keselamatan, kesehatan, kesusilaan, pemeliharaan moril kerja serta perlakuan yang sesuai dengan martabat manusia dan moral agama
Pasal 10 : Pemerintah membina norma perlindunggan tenaga kerja yang meliputi norma keselamatan kerja, norma kesehatan kerja, norma kerja, pemberian ganti kerugian, perawatan dan rehabilitasi dalam hal kecelakaan kerja.

TUJUAN
1.Tenaga kerja berhak mendapatkan perlindungan atas keselamatan dalam pekerjaannya
2.Orang lain yang berada di tempat kerja perlu menjamin keselamatannya
3.Sumber-sumber produksi dapat dipakai secara aman dan efisien

Untuk melaksanakan tujuan dengan melalui :
1.Kampanye
2.Pemasyarakatan
3.Pembudayaan
4.Kesadaran dan kedisiplinan

UU NO. 1 TAHUN 1970 TENTANG KESELAMATAN KERJA
BAB I – ISTILAH
Pasal 1
(1)Tempat kerja :1.Ruangan/ lapangan

2.Tertutup/ terbuka
3.Bergerak/ tetap
Unsur tempat kerja, ada :
(1) Pengurus
(2) Sumber bahaya
(3) usaha
(2)Pengurus ® pucuk pimpinan (bertanggung jawab/ kewajiban)
(3)Pengusaha
orang/ badan hukum yg menjalankan usaha atau tempat kerja
(4)Direktur
pelaksana UU No. 1/1970 (Kepmen No. 79/Men/1977)
(5)Pegawai pengawas
– peg. Pengawas ketenagakerjaan dan spesialis
(6)Ahli Keselamatan Kerja
tenaga teknis berkeahlian khusus dari luar Depnaker

BAB II – RUANG LINGKUP

Pasal 2
(1)Tempat kerja, dalam wilayah hukum R.I :a.Darat, dalam tanah

b.Permukaan air, dalam air
c.Udara
(2)Rincian tempat kerja, terdapat sumber bahaya yg berkaitan dengan :
a.Keadaan mesin/ alat/ bahan
b.Lingkungan kerja
c.Sifat pekerjaan
d.Cara kerja
e.Proses produksi
(3)Kemungkinan untuk perubahan atas rincian tempat kerja

Syarat-syarat K3
Pasal 3
(1)Arah dan sasaran yang akan dicapai melalui syarat-syarat K3
(2)Pengembangan syarat-syarat K3 di luar ayat (1) ® IPTEK

Pasal 4
(1)Penerapan syarat-syarat K3 ® sejak tahap perencanaan s/d pemeliharaan
(2)Mengatur prinsip-prinsip teknis tentang bahan dan produksi teknis
(3)Kecuali ayat (1) dan (2) bila terjadi perkembangan IPTEK dapat ditetapkan lebih lanjut

Pasal 5
(1)Direktur sebagai pelaksana umum
(2)Wewenang dan kewajiban :
–direktur (Kepmen No. 79/Men/1977)
–Peg. Pengawas (Permen No. 03/Men/1978 dan Permen No. 03/Men/1984)
–Ahli K3 (Permen No. 03/Men/1978 dan Permen No. 4/Men/1992)

Pasal 6 Panitia banding (belum di atur)

Pasal 7 Retribusi

Pasal 8
(1)Pengurus diwajibkan memeriksakan kesehatan TK
(2)Berkala ® (permen No. 02/Men/1980 dan Permen No. 03/Men/1983)

Pasal 9 – Pembinaan
(1)Pengurus wajib menunjukan dan menjelaskan ® TK baru
(2)Dinyatakan mampu dan memahami ® pekerja
(3)Pengurus wajib ® pembinaan
(4)Pengurus wajib memenuhi dan mentaati syarat-syarat K3

Pasal 10 – Panitia Pembina K3 (Permenaker No. 04/Men/1984)
Pasal 11 – Kecelakaan
(1)Kewajiban pengurus untuk melaporkan kecelakaan
(2)Tata cara pelaporan dan pemeriksaan kecelakaan (permen No. 03/Men/1998)

Pasal 12 – Hak dan Kewajiban TK
a.Memberi keterangan yang benar (peg. Pengawas dan ahli K3)
b.Memakai APD
c.Memenuhi dan mentaati semua syarat-syarat K3
d.Meminta kepada pengurus agar dilaksanakan syarat-syarat K3
e.Menyatakan keberatan kerja bila syarat-syarat K3 tidak dipenuhi dan APD yang wajib diragukan

Pasal 13 – Kewajiban memasuki tempat kerja
Barangsiapa akan memasuki suatu tempat kerja diwajibkan mentaati K3 dan APD
Pasal 14 – Kewajiban pengurus
a.Menempatkan syarat-syarat K3 di tempat kerja (UU No. 1/1970 dan peraturan pelaksananya)
b.Memasang poster K3 dan bahan pembinaan K3
c.Menyediakan APD secara cuma-cuma

Pasal 15 – Ketentuan Penutup
(1)Pelaksanaan ketentuan pasal-pasal di atur lebih lanjut dengan peraturan perundangan
(2)Ancaman pidana atas pelanggaran :
•Maksimum 3 bulan kurungan atau
•Denda maksimum Rp. 100.000
(3)Tindak pindana tersebut adalah pelanggaran

Pasal 16
Kewajiban pengusaha memenuhi ketentuan undang-undang ini paling lama setahun (12 Januari 1970)

Pasal 17
Aturan peralihan untuk memenuhi keselamatan kerja ® VR 1910 tetap berlaku selama tidak bertentangan

Pasal 18
Menetapkan UU No. 1/ 1970 sebagai undang-undang keselamatan kerja dalam LNRI No. : 1918 mulai tanggal 12 Januari 1970

PERATURAN PELAKSANAAN UU No. 1 Tahun 1970 – 1
•Secara sektoral
– PP No. 19/1973
– PP No. 11/ 1979
– Per.Menaker No. 01/1978 K3 Dalam Penebangan dan Pengaangkutan Kayu
– Per.Menaker No. 01/1980 K3 Pada Konstruksi Bangunan

•Pembidangan Teknis
– PP No. 7/1973 – Pestisida
– PP No. 11/ 1975 – Keselamatan Kerja Radiasi
– Per.Menaker No. 04/1980 – APAR
– Per.Menaker No. 01/1982 – Bejana Tekan
– Per.Menaker No. 02/1983 – Instalasi Alarm Kebakaran Otomatik
– Per.Menaker No. 03/1985 – Pemakaian Asbes
– Per.Menaker No. 04/1985 – Pes. Tenaga & Prod.
– Per.Menaker No. 05/1985 – Pes. Angkat & Angkut

•Pembidangan Teknis
– Per.Menaker No. 04/1998 – PUIL
– Per.Menaker No. 02/1989 – Instalasi Petir
– Per.Menaker No. 03/1999 – Lif Listrik

•Pendekatan SDM
– Per.Menaker No. 07/1973 – Wajib Latih Hiperkes Bagi Dokter Perusahaan
– Per.Menaker No. 01/1979 – Wajib Latih Bagi Paramedis
– Per.Menaker No. 02/1980 – Pemeriksaan Kesehatan Tenaga Kerja
– Per.Menaker No. 02/1982 – Syarat dan Kwalifikasi Juru Las
– Per.Menaker No. 01/1988 – Syarat dan Kwalifikasi Oparetor Pesawat Uap
– Per.Menaker No. 01/1979 – Syarat dan Kwalifikasi Operator Angkat dan Angkut
– Per.Menaker No. 02/1992 – Ahli K3
– Kep.Menaker No. 407/1999 – Kompetens Tehnis Lif
– Kep.Menaker No. 186/1999 – Pengorganisasian Penanggulangan Kebakaran

•Pendekatan Kelembagaan dan Sistem
– Per.Menaker No. 04/1987 – P2K3
– Per.Menaker No. 04/1995 – Perusahaan Jasa K3
– Per.Menaker No. 05/1996 – SMK3
– Per.Menaker No. 186/1999 – Pelaporan Kecelakaan

Sumber : http://www.kaskus.co.id/thread/523976cd128b460a5400000e/undang-undang-dan-dasar-hukum-k3/

SEJARAH PERKEMBANGAN PUSAT K3

TUGAS 2

Untitled-13-1024x172

Sejak tahun 2003 Pusat Keselamatan dan Kesehatan Kerja telah diakreditasi oleh Badan Standarisasi Nasional Sebagai Laboratorium penguji, dan telah mendapat sertifikasi ISO 9001:2008 sejak tahun 2009 serta memiliki berbagai fasilitas dan sarana pendukung antara lain sumber daya manusia yang kompeten, laboratorium yang terakreditasi oleh KAN Laboratorium tersebut dioperasikan oleh para tenaga ahli yang berkompeten serta memiliki sertifikat pengujian dalam bidang Keselamatan kerja dan Hiperkes.

Perkembangan Higiene Industri di Indonesia tidak diketahui secara pasti kapan tepatnya, namun perkembangan Higiene Industri di Indonesia yang sesungguhnya baru dirasakan beberapa tahun setelah kita merdeka yaitu pada saat munculnya Undang-Undang Kerja dan Undang-Undang Kecelakaan. Pokok-pokok tentang higiene industri dan kesehatan kerja telah dimuat dalam undang-undang tersebut, meski tidak atau belum diberlakukan saat itu juga.

Selanjutnya oleh Departemen Perburuhan (sekarang Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi) pada tahun 1957 didirikan Lembaga Kesehatan Buruh yang kemudian pada tahun 1955 berubah menjadi Lembaga Keselamatan dan Kesehatan Buruh. Dan pada tahun 1966 fungsi dan kedudukan Higiene Industri didalam aparatur pemerintahan menjadi lebih jelas lagi yaitu dengan didirikannya Lembaga Higiene Perusahaan (Higiene Industri) dari Kesehatan Kerja di Kementerian Tenaga Kerja dan Dinas Higiene Perusahaan/Sanitasi Umum serta Dinas Kesehatan Tenaga Kerja di Kementerian Kesehatan. Disamping itu juga tumbuh organisasi swasta yaitu Yayasan Higiene Perusahaan yang berkedudukan di Surabaya. Untuk selanjutnya organisasi Hiperkes yang ada dipemerintahan dari tahun ke tahun selalu mengalami perubahan-perubahan dengan nama-nama sebagai berikut :

– Pada tahun 1969 Lembaga Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja berubah menjadi Lembaga Nasional Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja.
– Pada tahun 1976 berubah menjadi Pusat Bina Higiene Perusahaan, Kesehatan dan Keselamatan Kerja.
– Pada tahun 1983 berubah lagi menjadi Pusat Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja.
– Pada tahun 1988 berubah menjadi Pusat Pelayanan Ergonomi, Higiene Perusahaan, Kesehatan dan Keselamatan Kerja.
– Selanjutnya pada tahun 1993 berubah lagi menjadi Pust Higiene Perusahaan, Kesehatan, dan Keselamatan Kerja.
– Pada tahun 1998 berubah lagi menjadi Pusat Hiperkes dan Keselamatan Kerja.
– Nama tersebut pada tahun2001 berubah pula menjadi Pusat Pengembangan Keselamatan Kerja dan Hiperkes.
– Pada akhir tahun 2005 menjadi Pusat Keselamatan Kerja dan Hiperkes.
– Dan pada awal tahun 2007 hingga sekarang menjadi Pusat Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

Jadi jelas bahwa pengembangan Higiene Perusahaan(Higiene Industri) di Indonesia berjalan bersama-sama dengan pengembangan Kesehatan Kerja yaitu melalui Institusi, juga dilakukan upaya-upaya melalui penerbitan buku-buku seperti Ilmu Kesehatan Buruh(1965), Ilmu Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja(1967), Ergonomi dan Produktifitas Kerja, Majalah Triwulan Higiene Perusahaan, Kesehatan dan Keselamatan Kerja dan Jaminan Sosial juga buku-buku Pedoman Hiperkes dan Keselamatan(semacam penuntun Penerapan Hiperkes dan Keselamatan Kerja di Perusahaan) serta leaflet tentang panduan kerja di laboratorium Hiperkes dan lain-lain yang disebarluaskan ke seluruh pelosok Tanah Air. Kegiatan lain seperti Seminar, Konvensi, Lokakarya, Bimbingan Terapan Teknologi Hiperkes dan Keselamatan Kerja diadakan secara terus-menerus. Dalam pembinaan personil dilaksanakan dengan menyelenggarakan kursus dan latihan didalam negeri, disamping pendidikan formal yang diselenggarakan didalam maupun diluar negeri.

Dari Segi Perundang-undangan yang berlaku, yaitu Peraturan Perundangan yang menyangkut Hiperkes yang terdapat didalam Undang-undang Peraturan Menteri daln Surat Edaran Menteri telah banyak diterbitkan. Upaya pembinaan Laboratorium Hiperkes dan Keselamatan Kerja yang dimulai sejak tahun 1973 sampai dengan tahun 1993 telah berdiri 14 Laboratorium Balai Hiperkes dan Keselamatan Kerja yang terletak di 14 Provinsi.

sumber : http://pusatk3.com/sejarah-perkembangan-pusat-k3/

Fungsi K3 Dalam Pekerjaan

TUGAS 1    

        Kesehatan dan keselamatan kerja (K3) adalah bidang yang terkait dengan kesehatan, keselamatan, dan kesejahtaraan manusia yang bekerja di sebuah institusi maupun lokasi proyek. Fungsi K3 adalah untuk memelihara kesehatan dan keselamatan lingkungan kerja.K3 juga melindungi rekan kerja, keluarga pekerja, konsumen, dan orang lain yang juga mungkin terpengaruh kondisi lingkungan kerja.

        Kesehatan dan keselamatan kerja (K3) cukup penting bagi moral, legalitas, dan finansial. Semua organisasi memiliki kewajiban untuk memastikan bahwa pekerja dan orang lain yang terlibat tetap berada dalam kondisi aman sepanjang waktu. Praktek K3 (keselamatan kesehatan kerja) meliputi pencegahan, pemberian sanksi, dan kompensasi, juga penyembuhan luka dan perawatan untuk pekerja dan menyediakan perawatan kesehatan dan cuti sakit. K3 terkait dengan ilmu kesehatan kerja, teknik keselamatan, teknik industri, kimia, fisika kesehataan, psikologi organisasi dan industri, ergonomika, dan psikologi kesehtan kerja

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Kesehatan_dan_keselamatan_kerja

kesimpulan mengenai materi AMDAL

Materi tentang AMDAL, itu lah yang saya temukan di semester ini,Saya menjadi paham tentang AMDAL,Dimana proses Penerapan di suatu pabrik dan tempat produksi industri di sekitar saya, Dengan adanya proses AMDAL di suatu tempat produksi akan mencegah terjadinya hal-hal yang tidak mengenakan , salah satu nya mencegah pengendapan limbah yang mencemarkan lingkungan yang di hasilkan dari Bahan yang telah diproduksi, dengan di perlakukan nya proses AMDAL limbah yang di hasilkan dari suatu proses produksi akan di proses sebagai mana mestinya,dan apa yang di perlakukan agar tidak mencemarkan lingkungan di sekitar tempat industri selain itu tidak menggagu kenyamanan masyarakat di sekitar nya,

Banyak materi yang saya peroleh tentang AMDAL saat ini,Dan saya bersyukur kepada allah SWT masih diberi kesehatan dan dapat menimba ilmu yang selayak nya saat ini selain itu saya berterima kasih kepada dosen yang telah memberikan materi salah satu nya Mengenai tentang AMDAL.